Thursday, October 23, 2014

Untuk para penguasa...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi raja, sehingga lupa untuk mengeja kata jelata...

Karena kelak, ketika runcingnya acungan telunjukmu menularkan titah, siapa lagi yang paling setia kalau bukan mereka...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi penguasa, sehingga lupa akan nada dari suara rakyat biasa...

Karena kelak, ketika tiba saatnya untuk kembali mendulang suara, siapa lagi yang akan rela membuang waktunya kalau bukan mereka...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi walikota, hingga musuh-musuh lama akan habis kau babat musnah...

Karena kelak ketika ia ternyata masih mampu untuk bernyawa, suaranya pun masih bisa membeli tenaga tenaga perkasa untuk membuatmu jera...

Janganlah karena kini engkau telah duduk di singgasana empuk negara, sehingga lupa cara berjalan diantara perumahan kumuh di pinggiran kota...

Karena kelak ketika itu kau buktikan dengan berlehaleha di dalam istana, maka siapa lagi yang akan mengepung pertapaanmu kalau bukan mereka...

Janganlah karena kini engkau telah menguasai banyaknya meja-meja di ruang sidang paripurna, sehingga dengan seenaknya meramu ribuan cara agar tuanmu kelak berkuasa di masa selanjutnya...

Karena kelak ketika itu semua itu menjadi nyata mereka saksikan di layar kaca, maka tunggulah datangnya hujan ludah yang telah mereka persiapkan semenjak engkau di sumpah...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi kaya raya, sehingga lupa akan arti dari kata miskin papa...

Karena kelak ketika roda kehidupan menjatuhkanmu kedalam lubang kesengsaraan dunia, maka engkau sudah faham akan makna dari tak punya apa-apa...

Janganlah, karena kini engkau telah dipuja oleh jutaan penikmat tayangan layar kaca, sehingga dengan seenaknya berulah tanpa tahu cara bersusila...

Karena kelak ketika engkau lupa bahwa sebenarnya puja itu bersifat sementara, maka semua sudah tak ada gunanya, yang lebih muda dan punya banyak cara sudah antri panjang diujung sana...

Janganlah karena kini engkau telah...

Janganlah karena kini engkau sudah..

Karena kelak ketika engkau...

Tunggulah saatnya...

Belawan, 201014

Saturday, October 18, 2014

Ingat tugasmu, katanya...

Dentang waktu kian merajam ruang tadah dengarku...
Mencabik daging kepulasan yang aku tumpuk di kedalaman tidur...

Sesaat, makian jarum jam menjulang tanpa ampun...
Merobek keranuman mimpi, memaksaku segera bangun...

Ingat tugasmu...!
Katanya....

Westport, 161014

Saturday, October 11, 2014

Senyum Zauza...

Di balik lembar kaca maya...
Lengkung garis senyumnya terukir sempurna...
Memanja, layaknya sesabit bulan di pertiga purnama...

Ah...
Rupa itu begitu perkasa membuatku lupa...
Bahwa lintang jarak masih membentang di depan mata...

(Senyum Zauza)

Belawan,111014

Friday, October 3, 2014

Engkau di kotak kaca kecilku..

Dari balik kotak kaca kecil yang ada dalam genggamanku, kulihat engkau tertawa riang diantara tumpukan mainanmu...

Bergerak lincah, tanpa pernah tahu bahwa ada seribu cara yang kapan saja bisa membuatmu terhenti, lalu menangis mengurai rengekan manjamu...

Bermainlah...

Dan terus lengkingkan derai tawa renyahmu di balik kaca kecilku, karena semua kerenyahan tawamu itu, mampu menguapkan butiran peluh yang tercucur diantara penatku...

Tetap lincah ya sayang...

Abaikan ketakutanmu, karena seribu cara yang ingin membuatmu berhenti hanya untuk menangis itu, adalah bagian dari pelajaran hidupmu...

Kelak nanti, engkau akan faham dan mengerti...

Belawan, 041014

Evolusi tusuk gigi dadakan