Wednesday, August 22, 2012

Serbuk debu abu-abu..

Adakah kemegahan kota dengan julangan gedung pencakar yang bisa tercipta, tanpa bauran bubuk halusnya yang kan segera membatu layaknya perunggu...?

Adakah lintasan beton di sepanjang jalan dan jembatan layang yang mampu memintas waktu,
tanpa bekuan keras yang teraduk dari ribuan keping pecahan tubuhya...?

Adakah rumah dan istana pemayung raga yang bisa menghadirkan kenyamanan jiwa, tanpa keikhlasannya untuk di tata, di cacah dan di pahat paksa oleh selera manusia yang tak terbatas angka...?

Adakah terminal, stasiun, dermaga dan bandara yang bisa menadah maupun sbagai pelontar tujuan
kita, tanpa topangan kekar dari kaki raksasanya yang di benamkan hingga ke dasar tanah paling bawah dari otot bajanya...?

Adakah....

Adakah....

Adakah.....

Dan mungkin masih ada jutaan karya anak bangsa yang belum tersebut dengan kata, dan terlahir dari wujud rahimnya yang tak lebih dr sejumput
guguran serbuk debu yang berwarna abu-abu..

Tuban, semen Gresik 220811

Saturday, August 11, 2012

Cerita di pangkuan sandaran tunggu stasiun kereta...

Sandaran tunggu terlarik panjang memangku ribuan macam
obrolan, menopang kesabaran akan datangnya gelincir roda besi
dari gerbong ekonomi perjalanan..

Aku disini dengan topi baretta yang itu lagi dan itu lagi, terus jadi
penyaksi akan sikutan sibuk dari para memahluk yang tak bisa diam dalam khusyuk..

Kepulan candu asap rokok dari para lelaki yang tak pernah tahu aturan..

Lengking suara pengasong yang selalu gemetar akan usiran peluit keamanan..

Penjaga toilet umum yang sedang asyik menghitung tumpukan keping-keping uang recehan..

Gerombolan pengemis jalanan yang terus meratapi uluran tangan iba dari para pejalan..

Beberapa pasang mata yang terus mengintai sejuta kesempatan dalam kesempitan..

Gontaian langkah para pemulung yang tampak resah diantara tebaran sampah sisa-sisa buangan..

Sekawanan anak sekolah yang menikmati pelarian dari rumitnya
pelajaran..

Juga beberapa security tataran yang masih tampak setia mengawasi segala macam ancaman...

Aku masih di sini dengan topi baretta yg itu lagi dan itu lagi, hanya
terdiam dari amatan indera pada semua kejadian nyata yang
terpampang di depan mata..

Aku disini, di sandaran tunggu stasiun kereta....

Tg.Priok, Jakarta,270312

Friday, August 10, 2012

Perempuan tua dengan kayu bakarnya...

Gerai rambut keritingnya yang kering telah memutih di lalap uban, namun di biarkan acak cemacak, mekar seolah siap mencakar kasar laju bola biji mata amatanku..

Tampak bagiku saat itu, selembar cerita duka dari riak iba di ujung matanya, yang seolah penuh dengan derap ayunan langkah kaki dan seakan telah mulai resah mengejar laju kehidupan..

Juga ketika senyum ramahnya yang tiba-tiba terkembang pecah, yang merekah diantara jeda kunyahan benda yang berwarna merah, hingga ludahnya seakan menjadi genangan darah saat terlontar dari semburan mulut keriputnya..

Ya…

Sempat kulitku bergetar menggidikkan jijik, sebelum akhirnya otakku memahami tentang kebiasaannya yang mustahil bagi orang-orang di kampungku..

Ia seorang perempuan tua sederhana dengan tongkat sebagai pengganti tulang dan panca indera mata rabun tuanya, yang dengan lilitan kain perca kumal sebagai seragam kerja saat menawarkan kayu bakarnya..

Ia adalah seorang perempuan tua yang perkasa, yang masih mampu memetik halalnya daun rupiah tanpa harus mengemis dan meminta-minta..

Ia adalah perempuan yang sesungguhnya..

_Perempuan tua dengan kayu bakarnya di lintas perbatasan _ NTT,
030312

Bungaku masih bunga yang dulu...

Ku ingin engkau tahu bahwa bunga yang dulu pernah kau lemparkan ke wajahku, kini masih dalam genggaman tangan dan tak akan kubiarkan layu sebelum engkau……

Ah…

Tiba-tiba keraguan kembali menyergapku, membungkam seluruh keyakinanku tentang keikhlasanmu untuk menerima ketulusan hatiku..

Mungkin telah jutaan waktu atau bahkan lebih, ku berdiri disini, di jalan ini, dimana engkau akan mengayunkan kaki seraya meludahkan caci tepat diatas tadahan rongga telinga dengarku..

Dan hari ini, seperti yang telah ku yakini sebelumnya, bahwa saat wangi tubuhmu mulai beterbangan mengabarkan berita akan
kehadiranmu di jalan ini, maka ribuan tong-tong sampah telah siap ku tata rapi guna menyambut lemparan tanganmu sesaat setelah aku memberimu rangkaian bunga-bunga itu..

Mungkin memang sebaiknya aku menyerah, sebelum keteguhan hatiku berubah dan akhirnya mengganti semua ketulusan bunga-bunga yang ku punya dengan kesegaran bunga baru namun hanyalah berkelopak pura-pura..

Bungaku masih bunga yang dulu…

Bunga yang pernah kau lemparkan ke wajahku..

ciwandan,110812

Engkaukah yang membaca mantra itu untukku..?

Dari celah retakan di daun pintu jendela kayu kamarku, seutas cahaya remang tampak menggemulai layu dalam langkah menyusuri ruang tapa malamku…

Sesekali ia mengedipkan kibasan selendang hitam, tatkala geliat laju bayang yang entah datang dari arah penjuru mana, tiba-tiba
menghampiri dengan seribu lipatan kain perca kumal dan menyumbati celah retakan di daun pintu jendela kayu itu…

Namun ketika gertakan waktu ternyata mampu mengusir dan mencungkil semua lilitan sumbat yang menghalangi lesatan cahaya itu, aku malah terjungkal dari kujuran ranjang kayu usang lapuk dikamarku…

Sebuah kilatan pedang berkepala cahaya kini telah bersarang tepat di jantungku dan menebas tajam semua reruas tulang kerangkaku…

Aku tersungkur..
terjerembab dengan simbahan darah yang tanpa warna dan aroma…

Dan sebelum mataku mengatupkan nyawa di penghujung nafas..

Sempat ingatanku mencatat namamu yang begitu fasih merapalkan mantra-mantra…

Engkaukah yang membaca mantra itu untukku…?

ciwandan,100812

Thursday, August 9, 2012

Segenggam rindu di ujung malam...

Akhirnya retina mataku kembali mencumbui tebaran titik-titik cahaya yang terhambur di bibir samudera..

Jutaan titik yang saling menganyam diri, merangkai baris di bentangan pandang pada ujung malam...

Di sanalah ku akan melabuhkan sebuah perasaan, yaitu segenggam rindu dalam buncahan rasa yang telah lama ku pendam..

Dan sebentar lagi, saat subuh mulai mengelupas dari lelapisan umbi remang, maka jutaan titik-titik cahaya pun akan menyingkir dari topangan tiang-tiang...

Lalu tunduk memberikan jalan, pada ayunan kaki yang segera ingin pulang...

Aku datang sayang...

ciwandan, 100812

Wednesday, August 1, 2012

Aku memilih dia, dan engkaulah yang kedua...

Di sepertiga lingkaran kayuh dari sang temaram, perlahan jubah-jubah keheningan mulai merayapi dinding malam, mengabarkan cinta yang entah dari siapa dan untuk siapa…

Aku yang tengah membasuh luka karena sayatan sesuatu dan kurasa tak perlu kau tahu, kini sedang termangu dengan merebahkan tanya pada sandaran waktu yang ku yakini pula tak mungkin kau tahu jawabannya…

Bukankah selama ini engkau hanya pembaca, yang tak akan pernah bisa menjadi tinta ketika aku memulai untuk merangkai kata,
memintal kalimat, membentangkan cerita, yang akhirnya menjadi sebuah kisah yang bernama cinta…

Sadarilah, bahwa di lembaran terakhir pada buku yang engkau baca, akan ku tutup dengan sederet kata yang mungkin akan
membuatmu ikut membasuh luka…

Bukan aku yang berkata, tapi goresan tintaku lah yang bercerita…

Aku memilih dia, dan engkaulah yang kedua…

Wini,010812

Aku sedang emosi...

Seperti belalang dengan tangkupan tungkai
panjangnya yang mengacungkan taji-taji keangkuhan di pelataran bumi..

Aku pun lebih lantang mengoarkan parau kegelisahan hati,
dengan menudingkan tanduk emosi diatas bau busuk dari hidung-hidung kehidupan yang seakan telah mati...

Lihatlah kebebalanku saat ini, yang ikut mengeraskan hati seperti julangan tebing hatimu yang ku benci..

Aku tak akan peduli dengan ceramah-ceramah suci dari Sang Nabi,
yang menggenggam ancaman neraka hanya untuk menakuti..

Bahkan matahari pun akan aku tombak dengan ujung bilah-bilah besi,
jika ia berani meredupkan letupan nyaliku saat ini...

Aku sedang emosi..

8 September 2011

Evolusi tusuk gigi dadakan