Friday, August 10, 2012

Perempuan tua dengan kayu bakarnya...

Gerai rambut keritingnya yang kering telah memutih di lalap uban, namun di biarkan acak cemacak, mekar seolah siap mencakar kasar laju bola biji mata amatanku..

Tampak bagiku saat itu, selembar cerita duka dari riak iba di ujung matanya, yang seolah penuh dengan derap ayunan langkah kaki dan seakan telah mulai resah mengejar laju kehidupan..

Juga ketika senyum ramahnya yang tiba-tiba terkembang pecah, yang merekah diantara jeda kunyahan benda yang berwarna merah, hingga ludahnya seakan menjadi genangan darah saat terlontar dari semburan mulut keriputnya..

Ya…

Sempat kulitku bergetar menggidikkan jijik, sebelum akhirnya otakku memahami tentang kebiasaannya yang mustahil bagi orang-orang di kampungku..

Ia seorang perempuan tua sederhana dengan tongkat sebagai pengganti tulang dan panca indera mata rabun tuanya, yang dengan lilitan kain perca kumal sebagai seragam kerja saat menawarkan kayu bakarnya..

Ia adalah seorang perempuan tua yang perkasa, yang masih mampu memetik halalnya daun rupiah tanpa harus mengemis dan meminta-minta..

Ia adalah perempuan yang sesungguhnya..

_Perempuan tua dengan kayu bakarnya di lintas perbatasan _ NTT,
030312

No comments:

Post a Comment

Evolusi tusuk gigi dadakan