Tuesday, March 14, 2017

BUBBLE WRAP THERAPY ( TERAPI GELEMBUNG UDARA)

Terkadang tanpa kita sadari, ada hal-hal kecil yang jauh dari jangkauan logika kita, tapi ternyata mampu membuat kita terdiam seolah memaksa otak kita untuk berpikir sejenak. Ya, seperti itulah yang saya rasakan malam ini. Sesuatu hal yang kecil dan remeh temeh, atau bahkan mungkin sebagian orang  malah menganggapnya aneh dan nyeleneh.

"Bang, Mr.Kumar sebentar lagi nyampe ke situ, barangnya tolong di terima ya,..."
"Jangan lupa sign, resinya simpen di folder requisition" suara officer saya lewat walky-talky channel 09.

"Ok bro" kata saya singkat.
Bukan berarti ga sopan loh ya, sama officer ngomong begitu, ...!  Tapi lebih karena persahabatan, maklum usianya masih di bawah saya, masih unyu-unyu. Dan bagi dia pun, itu tak jadi masalah. Salut kan sama officer saya.....?

Tidak butuh waktu lama, Mr.Kumar pun datang dengan membawa satu kotak kecil yang terbungkus rapi, indah dan mempesona. (Alah...bungkus barang kok ampe indah mempesona segala).

Setelah saya buka, ternyata isinya adalah detektor gas. Pantes aja di bungkusnya ampe rapi, indah dan mempesona begitu,  maksudnya agar selama proses pengiriman, barang tetap aman dan terkendali. ( aman dan terkendali...? Emang security lagi laporan ke pos jaga habis keliling di gudang kosong ...? hehe...)

Setelah saya pastikan semua beres, cocok, klop, kompak, sama,ga beda, ga cacat, dan sesuai dengan semua yang tercantum di list requisition, maka barangnya pun saya simpan di laci ship office agar tetap aman dan terkendali.

Untuk bungkusnya, pluk...! Telah mendarat paksa di dasar tempat sampah. Saya buang begitu saja tanpa memikirkan lagi jasa-jasanya. Saya jahat sekali ya...?

Eit...tapi tiba-tiba rantai otak saya berhenti, dan kembali mengayuh laju ingatan saya ke beberapa detik sebelumnya. Sepertinya sensor perasa dari ari-ari kulit jari saya sempat merasakan beberapa detik kelembutan, ketika saya membuang sampah plastik pembungkus detektor gas itu. Saya pun memungutnya lagi, lalu meremasnya berulang-ulang. Dan wow, saya merasakan ada sensasi kenyamanan lembut yang berujung pada kenikmatan yang sulit untuk di jelaskan. Saya remas lagi, lagi dan lagi, mencoba untuk merasakan lebih dalam agar rasa nikmat ini bisa saya jelaskan dengan bahasa lugas dan sederhana. Tapi saya sama sekali tak mampu menemukan kata yang bisa mewakili dan mengejawantahkannya.

"Itu namanya Bubble Wrap, emang enak kalo di remas-remas, apalagi kalo di mletus-mletusin, bikin ketagihan..." officer saya tiba-tiba meraihnya tanpa permisi dari tangan saya. Kenikmatan sesaat saya pun seakan teraniaya karena terenggut secara paksa. Tapi lima menit kemudian, saya dan officer saya telah duduk akur bersama sambil meremas remas menikmati kelembutan dan kekenyalan si Bubble Wrap, juga memecahkan gelembung udaranya satu-persatu hingga tak tersisa.

Dari situ saya mulai berpikir, mungkin Bubble Wrap ini bisa di jadikan sebagai media untuk terapi mengatasi kebosanan dan kejenuhan,  karena tanpa terasa guliran jarum jam seakan tergilas rata saat gelembung udaranya pecah di ujung jemari tangan. Ada sensasi yang sulit untuk dijelaskan saat gelembung udara itu pecah.
Atau juga mungkin bisa sebagai media pengalih ketagihan pada rokok yang tidak menyehatkan, karena setelah saya perhatikan selama si Bubble Wrap di tangan officer saya, dia sama sekali lupa dengan rokoknya, koreknya, bibirnya, atau bahkan bibir kekasihnya. Hehehe...
Lainnya mungkin juga bisa sebagai peransang sensor motorik bagi para penderita stroke yang butuh gerakan perlahan, seperti meremas remas sambil memecahkan gelembung-gelembung udaranya.
Dan yang terakhir mungkin juga bisa sebagai penyetara rasa pada remasan ke "sesuatu" bagi para jomblo kesepian yang tak punya pasangan. Dan saya sangat  yakin kalian semua pasti faham maksud saya. Hehehehehe....

Maka dari itu, ide cemerlang yang bisa saya sumbangkan hari ini pada kalian walaupun cuma hal-hal kecil, remeh-temeh, aneh dan nyeleneh adalah, "jangan sia-siakan si Bubble Wrap dengan menganggapnya sebagai sampah setelah terpakai sebagai pebungkus pengaman benda, tapi jadikanlah ia sebagai benda yang serbaguna".

Salam Bubble Wrap....!

Penulis memo adalah bukan penulis yang baik

Bismillahirrahmanirrahim...

Ternyata, untuk memulai kalimat pengantar pertama saja, saya masih butuh beberapa menit setelah berkali-kali  menghapus dan menghapus. Saya bingung mau memulai dari mana, dan dengan kata apa sehingga tampak lebih elegan, dinamis, bermartabat, komperehensif dan.... ( nah...maksud saya seperti ini nih, kadang-kadang ngelantur, padahal untuk tema kali ini cuma sekedar mau membahas tentang kalimat pengantar pertama saat menulis, tapi larinya kemana-mana. Haddeuuuuhhhhh)

Saya perhatikan beberapa penulis memulai dengan kata Bismillah lalu di ikuti dengan salam kesejahteraan, sanjungan, rasa syukur, rasa terima kasih, dan rasa-rasa lainnya mulai dari keluarga besar sendiri di Aceh sampai keluarga kecil orang lain di Merauke, termasuk kepada dkk, dll, dsb,maupun dst-nya. (Nah bingung kan...?)

Tetapi ada juga penulis yang memulai tanpa harus ada kata Bismillah dan salam sejahtera, apalagi menyebutkan rasa syukur dan terima kasih kepada leluhur dan sekutu-sekutunya, dia langsung ke pokok masalah tanpa basa-basi, tanpa ba bi bu dan tanpa be bo be`, benar-benar to the point.
Tapi setelah saya pikir-pikir, penulis yang baik itu mungkin memang harus begitu, yang harus mengerti dan memahami psikologi pembacanya nanti. Sebagai contoh saya rasa tidak mungkin seorang penulis yang baik akan menulis seperti ini " Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, bismillahirrahmanirrahim, alhamdulilahirrabbilalamin, salam sejahtera.....bla bla bla.... lalu kalimat berikutnya seperti ini :

"Hari ini jangan lupa minum susu", lalu di tempel di pintu kulkas.
"Sedang sholat" terus di gantung dekat pintu masuk.
"Toko ini pindah ke seberang jalan" tertulis di rolling door.
"Maaf wc mampet" di gantung di gagang pintu toilet.
"Bayar hari ini, besok gratis" ditempel deket meja makan.
"Batas suci" tertulis di pinggiran keramik beranda mesjid.
"Yang bawa tulisan ini keponakan saya, ttd Kepsek"
Dan masih banyak lagi....

( maaf, sepertinya saya salah menganalisa, itu adalah penulis memo, dan saya rasa ga perlu ada kalimat pengantar, setuju kan...?). hehehehehhheee...

Maka akhirnya saya mencoba menyimpulkan bahwa penulis memo adalah bukan penulis yang baik, jika tulisan memonya masih di iringi dengan kalimat pengantar yang penuh basa-basi. Tapi entah bagi kalian.

Saturday, March 11, 2017

Penulis yang baik adalah yang berangkat dari kebiasaan membaca yang baik

Kata orang, untuk menjadi seorang penulis yang baik ( arti baik disini bukan berarti baik hati loh ya...atau baik dalam artian sehat, tapi lebih ke arti yang lebih luas, seperti memenuhi kriteria seorang penulis, punya wawasan dan pengetahuan yang mumpuni, dan yang paling penting harus ahli dalam urusan penempatan titik koma, tanda tanya beserta tanda baca lainnya) harus rajin membaca, membaca dan membaca. Apa saja, dimana saja dan kapan saja. Setelah itu baru menulis, menulis dan menulis. Apa saja, dimana saja dan kapan saja.

Nah...., karena keyakinan saya begitu tinggi akan petuah itu, maka habislah  huruf-huruf yang terhampar diatas lembaran surat kabar, yang terjepit disela-sela buku, yang tergantung di bentangan spanduk, yang berlumut di dinding-dinding kota, yang tercecer di sobekan kertas, yang menempel di bungkusan produk-produk, yang terkurung di balik layar kaca maya di genggaman tangan,  semua saya lahap tak tersisa. Dengan  harapan lumbung kosakata saya melimpah ruah, juga wawasan dan ilmu pengetahuan saya tentang luasnya dunia tumpah kemana-mana, sehingga kelak ketika saya mulai menulis akan dengan segera terdaftar sebagai calon penulis yang baik.( baiknya disini sudah termasuk yang baik hati serta selalu sehat wal afiat pula yah....amin heheheehe).

Dan mulai saat ini, usaha untuk menjadi penulis yang baik telah di mulai.

Bismillahirrahmanirrahim......

Thursday, October 23, 2014

Untuk para penguasa...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi raja, sehingga lupa untuk mengeja kata jelata...

Karena kelak, ketika runcingnya acungan telunjukmu menularkan titah, siapa lagi yang paling setia kalau bukan mereka...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi penguasa, sehingga lupa akan nada dari suara rakyat biasa...

Karena kelak, ketika tiba saatnya untuk kembali mendulang suara, siapa lagi yang akan rela membuang waktunya kalau bukan mereka...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi walikota, hingga musuh-musuh lama akan habis kau babat musnah...

Karena kelak ketika ia ternyata masih mampu untuk bernyawa, suaranya pun masih bisa membeli tenaga tenaga perkasa untuk membuatmu jera...

Janganlah karena kini engkau telah duduk di singgasana empuk negara, sehingga lupa cara berjalan diantara perumahan kumuh di pinggiran kota...

Karena kelak ketika itu kau buktikan dengan berlehaleha di dalam istana, maka siapa lagi yang akan mengepung pertapaanmu kalau bukan mereka...

Janganlah karena kini engkau telah menguasai banyaknya meja-meja di ruang sidang paripurna, sehingga dengan seenaknya meramu ribuan cara agar tuanmu kelak berkuasa di masa selanjutnya...

Karena kelak ketika itu semua itu menjadi nyata mereka saksikan di layar kaca, maka tunggulah datangnya hujan ludah yang telah mereka persiapkan semenjak engkau di sumpah...

Janganlah, karena kini engkau telah menjadi kaya raya, sehingga lupa akan arti dari kata miskin papa...

Karena kelak ketika roda kehidupan menjatuhkanmu kedalam lubang kesengsaraan dunia, maka engkau sudah faham akan makna dari tak punya apa-apa...

Janganlah, karena kini engkau telah dipuja oleh jutaan penikmat tayangan layar kaca, sehingga dengan seenaknya berulah tanpa tahu cara bersusila...

Karena kelak ketika engkau lupa bahwa sebenarnya puja itu bersifat sementara, maka semua sudah tak ada gunanya, yang lebih muda dan punya banyak cara sudah antri panjang diujung sana...

Janganlah karena kini engkau telah...

Janganlah karena kini engkau sudah..

Karena kelak ketika engkau...

Tunggulah saatnya...

Belawan, 201014

Saturday, October 18, 2014

Ingat tugasmu, katanya...

Dentang waktu kian merajam ruang tadah dengarku...
Mencabik daging kepulasan yang aku tumpuk di kedalaman tidur...

Sesaat, makian jarum jam menjulang tanpa ampun...
Merobek keranuman mimpi, memaksaku segera bangun...

Ingat tugasmu...!
Katanya....

Westport, 161014

Saturday, October 11, 2014

Senyum Zauza...

Di balik lembar kaca maya...
Lengkung garis senyumnya terukir sempurna...
Memanja, layaknya sesabit bulan di pertiga purnama...

Ah...
Rupa itu begitu perkasa membuatku lupa...
Bahwa lintang jarak masih membentang di depan mata...

(Senyum Zauza)

Belawan,111014

Friday, October 3, 2014

Engkau di kotak kaca kecilku..

Dari balik kotak kaca kecil yang ada dalam genggamanku, kulihat engkau tertawa riang diantara tumpukan mainanmu...

Bergerak lincah, tanpa pernah tahu bahwa ada seribu cara yang kapan saja bisa membuatmu terhenti, lalu menangis mengurai rengekan manjamu...

Bermainlah...

Dan terus lengkingkan derai tawa renyahmu di balik kaca kecilku, karena semua kerenyahan tawamu itu, mampu menguapkan butiran peluh yang tercucur diantara penatku...

Tetap lincah ya sayang...

Abaikan ketakutanmu, karena seribu cara yang ingin membuatmu berhenti hanya untuk menangis itu, adalah bagian dari pelajaran hidupmu...

Kelak nanti, engkau akan faham dan mengerti...

Belawan, 041014

Evolusi tusuk gigi dadakan