Aku yang terkapar setengah mati dalam bungkusan rasa sakit dari bengkaknya gusi, cuma bisa merintih di atas jungkiran balik dari sendi-sendi ringkukan kaki.
Kepulan nyawa seakan hanya tinggal segelembung buih lagi dan mungkin kurang seinci dari jangkauan duri pengundang letusan mati.
Bahkan seutas bisikan seorang teman yang membawa segudang anjuran pun, seolah telah menjadi teriakan serak yang meledakkan rahang-rahang.
Yang ada hanyalah cakar-cakar belatung bergerigi besi, mencabik-cabik, mengoyak habis tubuh serdadu pengunyahku.
Aku terkapar setengah mati, roboh diapitan himpit sang gusi...
Sakit gigi_Surabaya,270612