Friday, May 17, 2013

Tentang kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan...

Terkadang, seribu tunas kegusaran akan terus tumbuh hingga menjadi belukar benci yang menjangkiti hati, tatkala benih penafsiran tak lagi berdasar pada gundukan logika murni yang kita miliki...

Bayangan hitam dari setiap jengkal permasalahan pun akan tampak semakin melegam, seakan ingin menenggelamkan semua pemahaman yang telah kita yakini sebagai sebuah penyelesaian...

Lalu tanpa kita sadari, lilitan hasut akan berubah menjadi rantai tuduh yang siap mencekik siapa saja dengan argumentasi pembenaran yang tak sejalan dan sefaham...

Ya, seperti itulah kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan dan selalu ingin menang sendiri...

Tak akan pernah ikhlas untuk mengakui suara kebenaran dari letusan pendapat yang tercetus dari mulut sang lawan...

Tak terkecuali aku, kau, juga mereka...

Jakarta, 110513

Wednesday, May 15, 2013

Ceceran sumpah, peregang nyawa...

Kulihat jutaan telunjuk yang teracung tajam menujam ke arahku...
Runcing dengan kuku cakar  bergerigi yang seolah siap menguliti dan memangsaku...

Juga gemaung suara ocehan cerca yang kian menggema di lelorong cuping-cuping telinga, laksana getaran suara sangkakala yang akan segera meniupkan ledakan kiamat pada lembaran nyawa yang aku punya...

Ceceran sumpah pun telah terserapah tak terbendung hingga terserak semaunya, tanpa peduli akan elakan bantah yang aku koarkan sebagai sanggahan nyata...

Ah...lagi-lagi nyawaku harus meregang karena ulahnya...

Jakarta,140513

Tuesday, May 14, 2013

Matahari yang tak kunjung rebah...

Di dinding langit, tampak ayunan langkah sang detik yang begitu gontai mengitari wajah matahari...

Ia begitu lamban, seakan tungkai-tungkai kaki sang menit adalah tungkai sang juara pelari yang mustahil untuk di langkahi...

Juga deretan angka-angka yang bergelantungan di pelipis waktu, kini semakin mengusam karena tak terjamah oleh gilasan kaki sang detik maupun lindasan tungkai sang menit...

Putaran roda waktu terasa begitu panjang dan lama, seolah laju kayuhan semangat tak lagi mampu mengitari lingkaran masa yang terus menggelinding dan kuyakini pasti akan semakin menua...

Hm...mungkin itulah sebabnya mengapa wajah matahari yang sedari tadi tersenyum dari arah timur cerah, tak kunjung rebah lalu merekahkan senja di ujung barat sana...

Tapi, bukankah hari ini harus di akhiri dengan cengkeraman malam yang akan datang dengan jubah hitamnya,  sehingga pagi akan kembali menjadi penguasa sementara di keesokan harinya...?

Ah...entahlah...

Jakarta, 150513

Evolusi tusuk gigi dadakan