Saturday, March 18, 2017

Kebenaran abstrak tiga dimensi

Ada kalanya sesuatu yang kita yakini benar sebenar-benarnya, namun ternyata masih dianggap salah oleh sebagian orang yang ada di sekeliling kita. Entah yang kita yakini itu adalah tentang cara atau formula-formula, entah itu tentang solusi penyelesaian suatu  masalah, ataupun tentang kesimpulan akhir yang kita putuskan dalam musyawarah bersama.

Kebenaran itu seolah benda asing dengan bentuk abstrak yang menampakkan dua sisi berbeda atau bahkan lebih, dari setiap orang yang melihatnya. Sehingga sudut pandang yang datang dari arah yang tak sama akan melahirkan penafsiran yang berbeda atau bahkan bertentangan secara nyata .

Saat orang pertama melihat dari sudut pandang sebelah kiri dengan penafsiran warna putih berbentuk bulat, orang kedua yang melihat dari arah sudut pandang sebelah kanan bisa saja punya penafsiran warna abu-abu berbentuk lonjong.

Sedangkan orang ketiga yang melihat dari arah depan dengan penafsiran warna hitam berbentuk kotak, bisa saja berbeda dengan orang keempat yang melihat dari arah belakang dengan penafsirannya yang warna coklat berbentuk oval.

Lalu orang kelima yang  melihat dari arah bawah dan menafsirkan warna merah dengan bentuk segitiga, juga bisa berbeda dengan orang keenam yang melihat dari atas yang mungkin punya penafsiran warna kuning berbentuk prisma.

Dan seterusnya...

Sehingga, penafsiran dari mereka yang melihat dari arah sudut pandang tertentu, yang memandang dari titik kemiringan derajat yang berbeda, yang memetakan pola dengan tingkat skala yang tak sama, yang membaca dengan jangkauan nalar seadanya, yang menimbang dengan kesanggupan neraca kearifannnya, dan yang mengukur dengan porsi nurani keadilannya, akan melahirkan penafsiran yang berbeda-beda.

Lalu siapa diantara mereka yang punya penafsiran paling benar ?
Haruskah ada penafsiran yang di salahkan agar ada satu penafsiran kebenaran yang tercipta ?

Mungkin memang ada baiknya benda asing yang berbentuk abstrak itu kita letakkan di atas meja, agar kita semua bisa mengamatinya secara bersama dengan seksama dan sedetail-detainya. Sehingga mulai dari warna, bentuk, pola,massa, ukuran, berat, besar, dan volumenya, bisa kita satukan dalam persepsi yang sama.

Karena penafsiran kebenaran itu selalu datang dari alasan-alasan dan dengan maksud  dan tujuan-tujuan, maka akhirnya saya berani mencoba untuk menafsirkan, bahwa tak ada penafsiran kebenaran yang benar-benar tertafsir secara benar sebenar-benarnya.

Tapi entahlah....

No comments:

Post a Comment

Evolusi tusuk gigi dadakan