Sunday, September 28, 2014

Overtime, mungkin = menjilati kebaikan...

Jika engkau masih menganggap bahwa derasnya aliran keringat yang kuperas di waktu senggangku, adalah caraku untuk menjilati kebaikan darinya, maka engkau sudah terlalu jauh mengayuh roda prasangka buruk terhadapku...

Bukankah genangan keringat yang mungkin sebentar lagi akan menenggelamkan kepala kita ini, adalah hasil dari perasan kita bersama di waktu yang sama....?

Tidakkah kau ingat, bahwa hanya dengan cara ini sehingga pundi pundi rejeki kita bisa tertawa...

Dan hanya dengan cara ini sehingga nyawa kita bisa terikat pada tiang semangat yang sama...

Atukah kini engkau telah lupa hanya karena buaian khayal dari lembaran rupiah yang mungkin belum tentu akan kita terima...?

Sadarlah kawan, bahwa aliran keringat di waktu senggang ini adalah hasil dari perasan kita bersama di waktu yang sama...

Hingga jika ini adalah caraku untuk menjilati kebaikan darinya, maka mungkin engkau pun sama...

( overtime )

Belawan, 290914

Saturday, September 13, 2014

Engkau = aku

Engkau masih saja memaki laju angin karena menamparmu dari segala penjuru, padahal engkau tahu bahwa dialah yang memulangkan moyangmu dari perantauan yang jauh...

Bahkan engkau berani meludahinya dengan sumpah yang menggerutu, walaupun engkau sadar bahwa limpahan rejeki yang kini ada di saku-saku bajumu, adalah bukti nyata dari upah tamparannya pada moyangnya dahulu...

Dan engkau selalu tahu bahwa moyangmu adalah pelaut ulung dengan kembangan layarnya yang membumbung, tapi mengapa engkau masih saja merasa belum beruntung saat kerjamu hanya mematung dan mematung...

Hm...

(Engkau = aku)

Port Klang, 130914

Sunday, September 7, 2014

Ku tak ingin menyebutnya sebagai kerinduan...

Rasa ini sebenarnya tak ingin aku sebut dengan kerinduan, karena dari hati yang paling dalam, ia justru  membuatku ingin segera pulang...

Kalau boleh dan di izinkan, Aku hanya ingin menyebutnya sebagai letupan ingatan perasaan, yang membuatku tak akan pernah lupa akan sebuah cita-cita tulus dalam satu hubungan kasih sayang...

Karena kuyakin, kesadaran hati semua insan dunia pun akan selalu sama, tatkala kita bercerita tentang kepergian karena sebuah cita-cita hubungan, lalu buncahan kerinduan tiba-tiba datang memaksa untuk membawa kita pulang, tapi akhirnya kita akan tetap bertahan...

Bertahan menahan kerinduan...
Bertahan menahan letupan ingatan perasaan...
Bertahan untuk tak pernah lupa akan sebuah cita-cita hubungan...
Bertahan untuk tak segera pulang...

Bukankah begitu kawan...

Bukankah begitu sayang...

Rasa ini tak akan aku sebut dengan kerinduan, agar aku bisa bertahan...

Port Klang, 060914

Friday, June 14, 2013

Menanti gaji...

Dari ketinggian tebing kegeraman, gemeretak garaham teradu lantang dengungkan ancaman...

Kelembutan suara pun telah pecah menjadi serakan sumpah, saat umbaran janji tak kunjung sampai di kerontangnya pundi-pundi rejeki...

Ya, mereka telah meruncingkan kemarahan, yang mungkin akan segera teracung tajam kepada siapa saja yang berani tawarkan
elusan peredam...

Hm...

Karena memang harus di akui, bahwa aroma ketidak-wajaran telah hinggap di atas geladak-
geladak hati mereka yang sebentar lagi akan mati ...

_Mereka yang menanti umbaran janji untuk di gaji, yang ternyata hanya jadi pengobar api emosi_

Jakarta, 140613

Friday, May 17, 2013

Tentang kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan...

Terkadang, seribu tunas kegusaran akan terus tumbuh hingga menjadi belukar benci yang menjangkiti hati, tatkala benih penafsiran tak lagi berdasar pada gundukan logika murni yang kita miliki...

Bayangan hitam dari setiap jengkal permasalahan pun akan tampak semakin melegam, seakan ingin menenggelamkan semua pemahaman yang telah kita yakini sebagai sebuah penyelesaian...

Lalu tanpa kita sadari, lilitan hasut akan berubah menjadi rantai tuduh yang siap mencekik siapa saja dengan argumentasi pembenaran yang tak sejalan dan sefaham...

Ya, seperti itulah kita yang masih setia bergelayut pada ranting keegoisan dan selalu ingin menang sendiri...

Tak akan pernah ikhlas untuk mengakui suara kebenaran dari letusan pendapat yang tercetus dari mulut sang lawan...

Tak terkecuali aku, kau, juga mereka...

Jakarta, 110513

Wednesday, May 15, 2013

Ceceran sumpah, peregang nyawa...

Kulihat jutaan telunjuk yang teracung tajam menujam ke arahku...
Runcing dengan kuku cakar  bergerigi yang seolah siap menguliti dan memangsaku...

Juga gemaung suara ocehan cerca yang kian menggema di lelorong cuping-cuping telinga, laksana getaran suara sangkakala yang akan segera meniupkan ledakan kiamat pada lembaran nyawa yang aku punya...

Ceceran sumpah pun telah terserapah tak terbendung hingga terserak semaunya, tanpa peduli akan elakan bantah yang aku koarkan sebagai sanggahan nyata...

Ah...lagi-lagi nyawaku harus meregang karena ulahnya...

Jakarta,140513

Tuesday, May 14, 2013

Matahari yang tak kunjung rebah...

Di dinding langit, tampak ayunan langkah sang detik yang begitu gontai mengitari wajah matahari...

Ia begitu lamban, seakan tungkai-tungkai kaki sang menit adalah tungkai sang juara pelari yang mustahil untuk di langkahi...

Juga deretan angka-angka yang bergelantungan di pelipis waktu, kini semakin mengusam karena tak terjamah oleh gilasan kaki sang detik maupun lindasan tungkai sang menit...

Putaran roda waktu terasa begitu panjang dan lama, seolah laju kayuhan semangat tak lagi mampu mengitari lingkaran masa yang terus menggelinding dan kuyakini pasti akan semakin menua...

Hm...mungkin itulah sebabnya mengapa wajah matahari yang sedari tadi tersenyum dari arah timur cerah, tak kunjung rebah lalu merekahkan senja di ujung barat sana...

Tapi, bukankah hari ini harus di akhiri dengan cengkeraman malam yang akan datang dengan jubah hitamnya,  sehingga pagi akan kembali menjadi penguasa sementara di keesokan harinya...?

Ah...entahlah...

Jakarta, 150513

Evolusi tusuk gigi dadakan