Tuesday, July 31, 2012

Ku basuh tangkai kayu derajatmu dengan tumpahan air mataku...

Selalu saja hidungku yang menjadi ujung
terakhir dari tudingan telunjukmu..
Menjadi setumpuk daging yang akan segera kau mangsa dengan cabikan runcing kuku cakarmu..

Dimatamu, aku bagaikan rerayap tanah yang
menggerogoti dan merapuhkan tangkai-tangkai kayu derajatmu..
Hingga kerakusan benalu dengan akar gemetahnya yang melumat pun masih terus melekat erat di fikiranmu yang karena
tentangku..

Dan akhirnya akulah yang harus terikat di
tiang-tiang tuduhan semumu..

Sementara engkau yang tanpa sadar dengan gelimang dosa yang menggelantung di hasutan mulutmu..
Segera membasuh getah fitnah dari tangkai kayu derajatmu dengan tumpahan airmataku...

11 September 2011

Monday, July 30, 2012

Bisikan makhluk api...

Walaupun Ia telah terikat kuat oleh pasungan rantai-rantai besi dari semburan firman-firmanMu,
namun hasutan bisik rayuannya masih terus menggema dan akhirnya merobek gendang telinga keimananku..

Mataku telah Ia bekap dengan gulungan perca ngantuk,
hingga bentangan sajadah waktu tak tergelar mengalasi benturan sujud-sujud jidatku..

Mulutku telah Ia sumpal dengan buntalan kusut benang-benang hasut,
menjadikanku bisu dalam mengumandangkan senandung syahdu tentang Asma-asmaMu..

Bahkan kerangka dari reruas tulang ragaku telah Ia lumpuhkan dengan elusan sapu dari mantra-mantranya,
hingga membuatku pulas dalam dengkuran panjang yang tak ada
ujungnya…

Ternyata aku belum mampu mengalahkannya…

Aku terpedaya….

Maafkan hambaMu ya Allah…
Yang masih belum mampu membantah atas semua bisikan dahsyat dari mahluk apiMu..

Wini, NTT. 31072012

Kisah nelayan tua...

Dengan sisa tenaga renta, ia mendayung lemah diatas sampan tuanya,
seraya mata terus bergerilya mencari tanda akan kecipak pundi-pundi harta…

Panas terik tak lagi jadi biang untuk di peras menjadi alasan,
sebagai penyurut niat dan akhirnya diam di bawah naungan atap kemalasan…

Ia tetap terus mendayung dengan sejuta keping harapan dikepala,
tak peduli akan urat tangan yang kian membengkak karena pecutan asa,
juga lapisan kulit yang semakin mengeriput dan melegam karena dibakar cuaca…

Baginya, kepulan asap dapur kehidupan harus tetap terjulang perkasa,
hingga menjelma menjadi sajian gizi yg siap cerna, untuk menyuapi mulut-mulut kelaparan yang menganga…

Dan ketika kecipak tanda mulai terbaca oleh awasan gerilya mata,
iringan semangat pun ikut terlempar bersama tebaran jala sebagai pengepung rejeki di hamparan samudera…

Hm….
Walau itu hanya geliat tanda yang belum menjadi rejeki di genggaman nyata,
namun bayangan istri dan anak yg siap menjemput dengan senyum indah di depan rumah,
telah menjejali semua isi tempurung
kepalanya…

Ah, si nelayan tua…

Kisah nelayan tua,230212

Di bawah payung iba...

Lalu siapa diantara kalian yang berani dan
begitu lancang menyebutku sebagai pecundang,
jika ternyata engkau pun tak lebih dari seorang pengemis tua renta,
yang cuma bisa menadahkan tangan iba kepada mereka yang melalu-lalang,
tanpa mampu bangkit menantang dan melawan kerasnya kehidupan...

Sadarilah, bahwa kita masih dalam satu lubang dan satu kubangan yang sama,
yang meringkuk pasrah di sudut-sudut suramnya kehidupan nyata..

Maka janganlah ada luapan lumpur hina,
jika ternyata semburan lumpur itu adalah satu-satunya harta yang kita punya....

Bukankah selama ini kita berteduh dalam satu payung yang sama,
yang bertahan dari teriknya sengatan rejeki dunia lewat guyuran tangan belas kasihan para pengiba...?

Kita hanyalah peminta-minta...

Sadari itu...!!

Gresik, 110911

Antara aku dan para serangga...

Sesekali lolongan anjing terdengar sesayup dari balik cadar bukit,
merobek kibaran hening yang terjuntai layu di dinding pekat langit...

Juga reriuhan cericit aneka serangga yang tak henti dengkurkan irama,
seakan ikut meronda,
memberantas musnah wabah ngantuk yang hampir menjangkiti katup mata...

Namun alur cerita yang terkisah dari adu cengkerama antara aku dan para serangga,
ternyata hanyalah berujung pada penafsiran nasib yang jauh berbeda,
dia menjalankan tugas dari Tuhan dan menikmatinya,
sedang aku dari atasan dan terpaksa.....

_Jaga malam_ Atapupu,180212

Sunday, July 29, 2012

Teriakan busa-busa keadilan...

Teriakan keras telah pecah dari lubang-lubang tenggorokan,
saat kobaran semangat menyeret mereka ke tengah jalan untuk sebuah tuntutan ataupun penolakan…

Dan karena cambukan tugas dari atasan yang menuhankan teori alasan keamanan,
barisan serdadu penghalang berang pun siap menghadang denganseribu cara yang kadang melukai nilai kemanusiaan…

Lalu di dalam gedung-gedung mewah pemerintahan,
sejuta aroma busuk dari mulut para penguasa semakin berbusa menegosiasikan kesepakatan pura-pura,
yang hasilnya telah terbaca bahkan sebelum kita terlahir ke dunia…

Bahwa, selain tebaran benih kemakmuran pada kantong segelintir orang ternama,
sisanya adalah pucuk-pucuk tunas sengsara yang akan segera tertancap di kerangka tubuh kita…

Sementara di sini, aku hanya mampu termangu dalam ketidakmengertian tentang
alasan mereka yang begitu teguh pada pendirian…

Apa yang akan terjadi…?
Terserah, aku tidak peduli…

(saat gelombang manusia tumpah di tengah jalan..) 30032012

Kambing-kambing perbatasan...

Apa yang bisa kau ceritakan tentang kambing yang ada di kampungmu..?

Masihkah ia berpesta pora diatas gelimang rumput hijau dari hamparan tanah suburmu…?

Ataukah ia semakin bermanja ria di kandang istananya oleh suapan gizi dari suguhan
tangan peternakmu …?

Atau jangan-jangan ia telah menjadi pengemis renta dengan kepala terdongak di samping pagar kebun sayuran milik tetanggamu…?

Atau mungkin juga ia telah berubah menjadi pengais sampah dan menikmati sisa ceceran cerna dari para pembuangnya…?

Ah…terserah dengan cerita apa yang akan engkau kisahkan tentang kambing yang ada di kampungmu…

Karena disini, cerita tentang kambingku tak sama dengankambingmu…

Kambingku tak berpesta pora, tidak bermanja ria, tak menjadi pengemis renta dan juga tidak mengais sampah..

Tapi ia memanjat tebing-tebing batu raksasa hanya untuk satu pucuk tunas muda, meloncati jurang-jurang yang mengerikan demi seutas rumput yang hampir layu karena kekeringan yan nyata..

Bahkan ia harus mempertaruhkan nyawa saat mencari bibit-bibit nyawa hanya untuk menyambung sisa-sisa hembusan nyawa…

Kambingku adalah kambing sebenarnya…

_Nasib kambing di atas tebing perbatasan Indonesia-Timot Leste_
Atapupu,NTT.110212

Saturday, July 28, 2012

Tentang isi saku imanku...

Setelah ku coba merogoh dangkalnya saku imanku, ternyata disana ku temukan beberapa lembar sajadah tarawih yang masih bisa dihitung dengan acungan ujung-ujung jari..

Seonggok kopiah lusuh belang yang terkulai lemah dalam lipatan usang, karena tak terjamah oleh benturan dahi-dahi hitam yang
dulu khusyuk di kedalaman sembah sujud sembahyang…

Beberapa butir tasbih tua yang entah jumlahnya tinggal tiga ataukah lebih dari puncak usia manusia di dunia, karena sudah lama tak terhitung lagi diatas pangkuan duduk sila…

Juga beberapa hela bau nafas puasa yang sangat jauh dari jangkauan tangan-tangan pahala karena alpa yang disengaja…

Astagfirullah..

Sepertinya takk ada tiket surga yang ku temukan disana..

Atapupu,NTT, 29072012

Selingkuh..

Dgn satu alasan..
Ku akhiri rasaku..
Ku biarkan ia menjasad mati..
Dan terbungkus dalam bujuran kaku sang sepi..

Aku tak peduli lagi dengan wangi tanah kesendirian..
Yang kan segera menguburku dari liciknya persembunyian..

Aku lelah terkurung dalam sekatan alasan..
Yang terus terkekang oleh dua curah perasaan..

Biarlah berakhir..
Dan tamat dalam episode yang menyakitkan..
Karena ku tak lagi ingin selingkuhan ini diteruskan..

7 Juli 2011

Hasutan curiga..

Cukup...!!!

Caramu mencintaiku seakan menguliti semua kesadaran akalku..
Engkau seolah menelanjangiku dengan kupasan tanya yang tak pernah ada ujungnya..

Selalu saja kau meruncingkan curiga, tanpa menyentuh sedikit bisikan logika..
Hingga hasutan prasangka yang kau punya, begitu tajam menudingku dengan tebasan duga..

Tidak bisakah kau sedikit berubah..
Memahami bahwa hembusan cinta yang aku damba..
Adalah yang bernafas dari tiupan angin surga, dan membelai mesra dengan ketulusan rasa..

Rasa saling percaya...

5 Juli 2011

Ruang tanpa fardhu..

Di suatu ruang yang tak di huni ilmu, sebuah kopiah lusuh nampak layu dalam onggokan lesu..
Terdiam tanpa giringan niat untuk menyentuh lembaran sujud-sujud waktu..
Dan hanya menggantung di congkaknya pancungan paku..

Masih di tempat yang sama, gulungan sajadah pun seolah pasrah dan terkulai dalam bujuran lemah..
Tak tergelar mengiblatkan hujaman sembah di julangan kab'ah..
Dan hanya terlipat percuma, lalu di jadikan sebagai penutup wajah dari serangan tuding tuduhan tak beragama..

Juga lingkaran bulir tasbih tua yang tergeletak diantara sela lembaran kitab dan buku-buku..
Yang seharusnya malu dan terganggu oleh kerumunan debu-debu..
Karena cengkeraman jari-jari tak pernah lagi khusyuk menghitungnya di kedalaman fardhu..

Astagfirullah..

19 Juni 2011

Friday, July 27, 2012

Subuh yang terkelupas...

Gigilan subuh telah mengelupas..
Teraut oleh ketajaman mata pisau sang pagi yang tak pernah pulas..

Kumandang adzan subuh pun tertinggal jauh di kedalaman nyenyak..

Tersusul oleh langkah lugu sang dhuha yang dua raka'at..

Maafkan aku ya Allah..
Subuh-Mu telah ku cecer di ruang kekhilafan alpa..

31 Mei 2011

Thursday, July 26, 2012

Amarah (2)..

Ketika sapuan itaran pandangku menajam lurus membelah kegelapan malam..

Setitik nyala merah seolah mengalihkanku dari alam perenungan..

Menyorot tajam menembus tiang-tiang khayalan..

Aku pun terperangah..
Dan tak sanggup mengurai apa yang terpampang di depan mata..

Tiba-tiba saja engkau sekelebat berubah menjadi serigala..

Dengan auman suara dan lototan mata yang menahan amarah..

Ada apa denganmu kawan..?

29 Mei 2011 ·

Amarah..

Dari suara gemeretak adu gerahammu..
Kutahu amarah itu menyentuh ubun-ubun kepalamu..
Melilit lingkaran urat syaraf lehermu..
Dan menyedak tarikan hela nafasmu..

Emosimu telah membatu di kepalan tanganmu..
Memerah dari sorotan matamu..
Dan bergetar di sekujur tubuh kekarmu..

Lalu dengan caci makimu..
Ludahan cerca hinamu..
Tuduhan fitnah busukmu..
Terkoar dari parau suara serakmu..

Engkau telah marah..
Dan siap memangsa apa saja..

30 Mei 2011

Wednesday, July 25, 2012

Tentang kebiasaan...

Kebiasaan sekarang belumlah menjadi sesuatu hal yang memasalahkan kita pada perubahan..

Menjadi masalah dalam usaha mengubah kebiasaan, saat arah perjalanan tak kunjung berakhir pada tujuan..

Melainkan, memaksa kita untuk tetap mengayunkan langkah pada tempat yang sama dimana kita memulainya..

Yang berarti kebiasaan kita belum berubah dan sekarang telah menjadi masalah..

15042011

Kepada mereka yang kehilangan orang tuanya...

Ya..

Semoga bungkusan amanah yang di gelantungkan pada bahu kananmu, akan menjadi tangga baru untuk meraih senyum abadinya yang telah melayang jauh menuju ke pintu-pintu Ilahiyah..

Dan..

Semoga pula gumpalan duka yang terpikul berat di bahu kirimu, akan menjadikanmu tetap dalam ketabahan hati hingga berujung pada penyetaraan nilai, selayaknya para malaikat yang tetap setia pada keikhlasan sebagai ajaran kebaikan..

15042011

Belukar-belukar tanya...

Ku masih di sini..
Bersembunyi diantara belukar tanya yang terus mendera..
Yang menyiksa dengan seribu tamparan sapa penuntut dosa..

Ia terus memaksa dengan cambukan cerca..
Yang entah sampai kapan terus menista..

Dan tiada henti pula ia menyembah..
Menunggu hunusan jawab yang telah tersarung rapat di alam sumpah..

"Haruskah ku menelanjang jiwa di atas sumpah yang telah ku pahat rata dengan sempurna..."!!!

11042011

Ku hanya ingin menjadi murid dari semua ilmu yang di ajarkan...

Dengan apa ku akan membaca..
Dari kumpulan jutaan titik, ataukah gabungan beberapa koma..?

Sementara meniru dan menyeru, tapi akhirnya tetap menanda tanya...

Dengan apa ku akan meraba..
Dengan sentuhan jemari tangan, ataukah cukup satu sapuan perasaan..?

Sementara benda yang jadi tujuan incaran, tak mampu terjangkau oleh genggaman..

Dengan apa ku akan menerka..
Dengan terawang akal, ataukah mencoba tuk meramal..?

Sementara kenyataan yang terpampang di depan mata, tetaplah dari rangkaian kaki kita yang melangkah..

Sesungguhnya, ku hanya ingin menjadi murid dari semua ilmu yang di ajarkan..

01042011

Masih di persimpangan..

Ku masih terjerembab di lembah keraguan..

Bimbang dalam pengalihan aura musim kesepian..

Aku masih di persimpangan..

Masih memintal benang-benang keberanian..

Sebagai pengobar niat..

Pemangku semangat di laju perjalanan..

Ketakutanku masih mengancam..

Melemahkan angan juga harapan..

Aku masih lemah..

Dan ingin di papah..

05042011

Petuahmu...

Dan semoga lintang aral yang terus menerjal, kian melapuk, lalu runtuh oleh terjangan peluru doa sucimu..

Beribu laku telah kau ramu dan tak henti kau pacu..
Memecut sembah pada niat kesyukuranmu..

Aku bahagia dengan semua petuahmu..

Dan berharap tak pernah usang digerus sang waktu...

04042011

Pulsa (awal dari semuanya...)

Maka mungkin dengan meretas lintang pada bujur dunia..

Mampu mengubah skala di setiap jengkal pada peta lama..

Juga mengganti semua cara baheula yang mungkin seharusnya jadi sejarah..

Karena kini bukanlah di zaman raja dengan sihir bertuah, ataupun dengan keris pusaka sebagai senjata..

Tapi kini semua tentang pulsa, sebagai awal dari semuanya..

05042011

Tersesat...

Di belantara rimba..
Ku menjelajah tanpa arah..
Menantang sabana..
Arungi liarnya sang fauna..

Tergeletak di serakan daun yang meranggas..
Mengering di balik patahan kayu reranting..

Dan logika yang dulu jitu melesatkan arah mata tuju..
Kini merancu..
Terdiam dan malu..

Aku terdampar..
Tersesat di tengah jalan..

04042011

Duri kehidupan...

Seakan kembali menapaki jalan yang pernah ku lalui..
Menyusuri tiap jengkal nasib yang dulu terabai..

Aku pun terjaga dari geliat langkah..
Lalu tanpa sadar, aku terjungkal dari laju lamunan yang kian mengkhawatirkan..

Dan seraya memunguti sisa puing-puing mimpi khayalan sebelum kembali menyulam derap ayunan kaki pada langkah perjalanan, mataku pun terus membaca gelagat akan sebuah ancaman..

Ternyata serakan duri masih saja angkuh berdiri..
Tetap setia menanti lunaknya daging kulit-kulit ari..

Tapi akalku sempat menyeringai, menahan ayunan kaki untuk sejenak berhenti..

Lalu ku mencaci..

"Tak bosankah kau melukai, menusukkan perih sampai ke ulu-ulu hati.."

"Ataukah ku harus berlari melangkahimu hingga tertinggal sendiri, lalu engkau perlahan merapuh dan akhirnya membangkai mati, tak berarti..?"

07 juni 2011

Layang-layang...

Di angkasa, ia hanyalah titik-titik hitam yang meliuk kiri kanan tak beraturan..

Namun sesekali menukik..
Lalu mengusutkan diri dengan titik lainnya, sebagai cara penguji akan kuatnya bentangan senar kemenangan ..

Riuh suara bocah ingusan pun meledak bersahutan..
Di iringi lari dengan dongakan kepala pengawasan..

Lewang...

Lewang..

Salah satu bocah meloncat kegirangan, ketika satu titik hitam putus kalah aduan..

Suatu pemandangan yang mengusik dan seolah mengetuk pintu ingatan..
Lalu memulangkanku pada masa kecil dengan permainan yang mengasyikkan..

Bermain layang-layang..

Pontianak,09072011

Getah celaka...

Di kegelapan lubang yang tanpa adanya seutas garis cahaya...
Ku terperangkap getah celaka...

Tubuhku pun melepuh penuh torehan luka..
Mengejang oleh sengatan murka yang menghentak dengan cambukan cerca..

Ribuan fatwa terus saja menghakimiku rendah..
Menguliti raga dengan irisan sumpah yang menyerapah..
Menelanjangi jiwa dengan lucutan paksa akan sebuah rahasia...

Aku kian terpedaya...

Aibku telah di cincang rata, di cacah dan di perkosa di depan mata mereka...

Lalu di biarkan berserakan, mengeping hingga berjuta-juta...

18 juni 2011

Tuesday, July 24, 2012

Tentang perbedaan...

Semuanya terdiam..
Terpasung di sudut pemahaman..

Juga ketika luapan ego mulai merantaikan diri di tiang keteguhan..
Lalu saling mengakui satu kebenaran dari arah sudut yang berseberangan...

Maka jembatan debat pun akan segera terjulang..

Debat itu mungkin menyelesaikan..
Tapi sepakat mungkin jauh lebih mendamaikan..

Satukanlah semua ceceran sampah perbedaan..
Dengan ikatan tali mufakat iman..

Lalu berikrar pada kehidupan...
Bahwa kedamaian telah siap untuk di genggam...

18 Juni 2011

Pagi yang sempurna...

Di hamparan telaga sinar sang surya..
Ribuan kelopak jiwa perlahan merekah..
Menyerbakkan wangi di adukan nafas bumi..

Senyum sapa indah terkepak mesra..
Mengangkasakan cinta hingga ke ubun2 dunia..

Udara pun tak henti menyantuni usia..
Menyambangi raga..
Kembali menyegarkan logika..

Pagi yg sempurna...

18 Juni 2011

Riak-riak permainan masa kecilku...

Kutelanjangi cara mereka yang bermain di riak arus pasang surut pantai, dengan sapuan itaran pandangku dari arah bibir matahari.

Kecipak lencak air seketika membuih di lalu-lalang kaki mungil yang saling mengejar, disusul derai tawa hingar yang cukup ampuh.menampar julangan karang di telinga.

Mereka kadang berlari, melingkar, meloncat,lalu mengelak dari jangkauan tangkap.

Dan, saat satu jangkauan mampu menjatuhkan satu badan hingga terdebam di atas tadahan air yang berpasir legam, maka saat itulah puncak kegirangan dari keluguan mulut-mulut mereka.

Tapi, aku hanya bisa memandang dari arah bibir matahari, sementara isi kepalaku jauh merenangi riak-riak permainan dari masa kecilku....

Atapupu, NTT. 180712

Besi dan kayu...

Daripada ku menjadi besi yang di asah tajam
hingga tersulap menjadi pedang, lalu di
acungkan hanya untuk menebas tubuh manusia yang tak berdosa di arena kehidupan...

Maka lebih baik ku memilih menjadi kayu usang yang lapuk, namun mampu menumbuhkan kesuburan lumut sekaligus sebagai makanan empuk bagi rerayap tanah di arena kandangmu yang busuk...

Ku memilih lemah tapi berguna...
Daripada perkasa tapi terus menyiksa...

17 Juni 2011

Tak ada yang abadi...

Dari ketinggian langit, jutaan deru bulir peluru-peluru bening, tak henti
menggelinding dan menyerbu retakan bongkah tanah-tanah kering...

Ia menembus semua arakan gumpal kepekatan awan, lalu menjadikannya hujan, dari rajutan gerimis yang tertahan...

Serangannya pun mengungsikan siapa saja yang berani dan bagitu lancang untuk menantang...

Bahkan sengatan matahari yang sedari tadi pongah menggertak wajah bumi,
pontang panting menyelinap di balik punggung lelajur rotasi...

Hm...

Darinya ku sadari...
Ternyata kekuasaan memang tak akan abadi...

16 Juni 2011

Monday, July 23, 2012

Serabut dengki...

Dari kerak bumi, ku cungkil sisa rambahan dengki..

Yang mengakar keras, menggerogoti kesuburan nurani...

Serabutnya masih saja lihai menjuntai...
Menudingkan iri...
Menelunjuki dengan getah yang meracuni...

Dari mana engkau tersemai...
Menjadi tunas dan memucuk...
Lalu tumbuh menjadi benalu benci...

Keiri-dengkian hatimu...
Semaian tunas bencimu...

Sebaiknya segera ku bunuh..

13 Juni 2011

Hujan...

Awan tiba-tiba melebam...
Biru menghitam, tertampar kepanca-robaan...

Sang mendung mengangguk setuju...
Sepakat mengadu domba dua suhu...

Silau terang menyengat tubuh...
Dan gelap berkabut meringkuk kuyup...

Ia terus mengarak pola acak...
Melindas rona cerah dengan noda karat...

Dan tanpa perintah, ia merobek langit hingga terbelah...
Mengirisnya dengan sayatan kilat...
Juga menebas dengan gemuruh dahsyat...

Pipi langit pun berlinang...
Tumpah dengan guyuran beban...

Dan akhirny hujan..

13 Juni 2011

Sunday, July 22, 2012

Kesaksian udara...

Aku adalah sekawanan udara yang bergerak dari ketinggian kota, menyusup
diantara lorong-lorong gelap yang di huni manusia dengan segala keluh kesahnya...

Aroma ketimpangan terasa begitu menyengat di mana-mana..

Dan ketika mataku menyorot tajam diatas kumpulan manusia dengan
pesta poranya di ruang-ruang yang megah, tanpa sengaja kakiku menggilas
julangan kepala-kepala renta yag kelaparan tak berdaya...

Seperti inikah layar kaca kehidupan kota...?

Ku hanya sekawanan udara yang tak mampu memihak pada siapa-siapa...

Ah, seandainya aku bisa...

29 Mei 2011

Alibi...

Selalu saja kau berteori..
Mengangkangi alasan, sebagai penguat alibi...

Tidakkah semua yan telah terbukti, membuatmu faham untuk mengerti..
Lalu tunduk dan mengakui dengan hati...

Maka diamlah...

Dan tak usah membantah dengan elakan dusta...
Atau pun berceramah dengan lengking silatan lidah...

Karena semakin kau mengulah dengan menuhankan fitnah...

Semakin membuatmu jauh dari kesusilaan bersesama...

Ingatlah...

Bahwa kutukan cambuk dunia bisa meremukkan namamu kapan saja...

28 Mei 2011

Aku masih bahagia...

Sendiri terdiam...

Teracuhkan...

Tak di anggap..

Dan di remehkan...

Namun..

Ku tak resah...

Walau terluka...

Dan tetap ramah...

walau di cela...

Terserah...

Dengan semua yang kau rasa...

Karena ku masih bahagia dengan apa yang ada...

Yaitu sebuah rasa...

Dan kata-kata...

28 Mei 2011

Tentang serangga dan omong kosongnya...

Telah terjadi perdebatan sengit antara nyamuk dan lalat, tentang ulah mereka ketika sedang mengintip seekor janda kecoa yang lagi mandi di WC tetangga...

Dengan bangga sang nyamuk bercerita, bahwa semalam ia sangat beruntung karena bisa menghisap dan menjilati paha mulus si janda kecoa di saat terlelap di ranjang empuknya...

"Darahnya semanis gula, Lat..."

Tak terima dengan ocehan nyamuk, Lalat pun menyela..

"Itu belum seberapa, Muk..."

"Ketika janda kecoa selesai buang hajat, dan sebelum  ia membilasnya, akulah yang lebih dulu membasuhnya dengan lidah,.."

Dan tahukah kau apa yang ku basuh di sekitarnya...

Ah....nikmatnya...

28 Mei 2011

Ku damba maafmu...

Ketika lontaran biji bola mata amatanku, menembus tepat di tadahan iba bola matamu...

Ada sesuatu yang seolah pecah...

Meretak perlahan, lalu mengurai kekusutan paham pada dua lingkaran perbedaan...

Lambaian maaf seakan telah terkibarkan, dan mungkin bendera kedamaian pun akan segera di ujung tiangkan..

Benarkah apa yang kini ku rasakan...?

Bahwa penyesalan sesalku, telah kau telan dari bias tatapan ikhlasmu itu...

Sungguh ku damba maafmu..
Dan inilah kesalahan terakhirku...

23 Mei 2011

Dendam amarah...

Ingin rasanya ku mengunyah tubuhmu, hingga melebur bersama lelehan air liurku..

Akan ku cabik setiap inci dari kenajisan tingkahmu, sampai tercincang oleh koyakan runcing gigi taringku...

Lalu segera kumuntahkan remahan dagingmu,layaknya bangkai jasad orang mati, yang tak di akui oleh pengakuan mahluk bumi...

Maka seharusnya kini engkau tahu, bahwa ludahan caci busukmu yang telah mengurungku dalam kubangan sampah sang waktu, akan aku tebus dengan merobek setiap senti dari kulit daging kemaluanmu...

Dan dengarlah sumpahku...

Sampai mati, dosamu tak akan kuampuni....

23 Mei 2011

Tentang aku yang lapar oleh tawaran gizi dunia...

Tatkala ingatan nafsu selera, mulai berkecamuk di rongga-rongga perut yang menghampa...

Aku seolah musafir kelana, yang terdampar di kerontangnya bentangan sahara...

Mendahaga laksana hamba-hamba dalam tunai puasa..

Yang berjuang dalam tindihan nafsu dan selera, di gencarnya godaan aroma bumbu dosa...

Aku hanya haus oleh wewangian surga...

Tapi, lapar oleh tawaran gizi-gizi dunia...

20 Mei 2011

.....

Kenapa pula keramahan kita yang harus berubah menjadi kebencian, karena ulah mereka yang begitu tajam mencela dengan nada yang menyakitkan...?

Bukankah suatu kebaikan saat kita mampu membawa mereka ke tempat yang lebih terang dengan tebaran senyum  keramahan, daripada menyeretnya ke ruang gelap permusuhan dan saling mengadu tatapan kebencian...

11 Mei 2011

Karena gelombang kecurigaan itu menenggelamkan...

Kelautlah menyelami indahnya panorama kehidupan...

Mengarungi setiap jengkal arus kebebasan,tanpa harus resah oleh guyuran terik panas kecemburuan...

Renangilah kebebasan itu tanpa tarikan hela nafas kebimbangan...

Sebelum gelombang kecurigaan menenggelamkanmu dari niat kesetiaan...

Buktikan...

Buktikanlah dengan apungan pengakuan...

Bahwa gelembung buih kedamaian akan hadir dari alur riak kepercayaan...

Karena gelombang kecurigaan itu menenggelamkan...

9 Mei 2011

Maaf, aku terlanjur kecewa...

Maaf...

Tanganku tak mungkin lagi terulur hanya karena ratapan ibamu yang sendu itu...

Jangankan tumpahan air mata penyesalanmu menjadi genangan darah, menjadi kubangan nanah hingga
menenggelamkanmu pun, juga masih belum
mampu membuat hatiku peka lalu
memaafkanmu dengan begitu mudahnya...

Karena jika luka nganga sakit hatiku harus di umbar dengan semburan kata serapah, maka kuingin mengutukmu segera menjadi seonggok kepiting merah yang akan ku ikat
dan ku rebus pula...

Maaf, aku terlanjur kecewa...

10 November 2011

Friday, July 20, 2012

Jalanan ibukota (2)......

Hanya deru mesin yang terus menjejali ruang
tadah dengarku, mengaduk hampir seluruh suara desing yang kian membising di rongga
telingaku...

Juga awuran debu yang begitu pengecut
mengerubungi tanpa wujud, yang menyelinap
diantara kepulan asap dari kendaraan yang
berwajah kusut lagi butut...

Polusi seolah telah mnjadi teman koalisi yang
abadi, menemani hingga ujung hari
sekalipun menjadi basi dalam bungkusan
matahari...

Dan laju derap kaki terus berotasi sendiri-sendiri tanpa rasa empati dan peduli, saling menggilas dalam tarikan
nafas kejam sang ibukota...

Aku menutup mata...
Menutup hidung...
Menutup mulut...
Menutup wajah...

Sebelum akhirnya ku menutup usia di pinggir jalan raya yang telah menjadi neraka....

Yos Sudarso, Tg.Priok 241111

Jalanan ibukota...

Walupun jarum jam telah jauh melampaui
batas lingkaran tengah malam, namun
barisan sorot mata terang dari kendaran yang
berseliweran, terus saja melaju kencang, dan
tak peduli dengan mimpi para gelandangan yang terburai olehnya, karenan tertabrak di seberang jalan...

Dia yang pulang dari ruang gemerlap malam,
telah melindas mereka yang sedang memungut
sisa harapan di tepi jalan...

Aku yang jadi saksinya...

Bahwa dia yang orang kaya, yang bermata merah
karena pengaruh alkohol yang telah diminumnya, telah menewaskan satu keluarga gelandangan dalam
rumah gerobaknya saat mereka berbagi sisa
makanan...

Aku hanya mematung dalam diam, saat si kaya pergi tanpa adanya rasa belas kasihan....

Dan dalam hati, inikah ibukota..?

Yos Sudarso, Tg. Priok 241111

Maaf beralasan....

Terkadang, ada kesalahan kecil yang begitu sulit untuk
kita maafkan, dan kita menyebutnya sebagai
dasar pembentuk alasan agar tak mnjadi
kebiasaan yang sengaja untuk di lakukan.

Namun, disaat ada satu kesalahan yang begitu
besar dan mgkin saja sengaja di lakukan, tapi kita maafkan dengan begitu mudahnya, lalu
menyebutnya sebagai dasar pembentuk jiwa yang toleran, pemaaf dan berjiwa besar.

Masihkah kata MAAF itu bermakna ikhlas, saat
ia terulur karena demi satu ALASAN...?

Entahlah...!!!

16 Oktober 2011

Jari tengah dari dia...

Ia memalingkan wajah dan segera
mengelakkan hatinya, saat mnyadari ujung
mataku hampir mnggapai dan mnyentuh
nafasnya...

Ia lalu meludah, melontarkan sumpah atas
masa lalunya yang dulu ku jamah...

Dan seakan tiada maaf yang mampu terluah dari rona merahnya, maka ia pun merapatkan geraham
hingga berderak karena disesaki gemeretak dendam...

Ia begitu marah...

Dan tanpa kuduga, tiba-tiba ia
mengacungkan jari tengah seraya mendecak
geram pada suasana....

"Fuck you'' teriaknya...

Terserah...
Karena aku memang salah...

16 Oktober 2011

Thursday, July 19, 2012

Sandi-sandi misteri...

Kembali ku menggurui...

Mengajarkan
sandi-sandi, yang tak kunjung ia fahami.....

Telah puluhan kali suar ku kedipkan silih berganti...

Berharap ada balasan yang sama, walau hanya dengan titik nyala api.....

Tapi ia tak peduli..

Dan terus
berlari tanpa ingin di ceramahi dengan seribu aneka teka-teki....

Aku pun kembali melunglai..
Meredupkan mimpi untuk meretas tali-tali misteri....

Tuban, 140911...

Kesetiaan...

Seperti ku meyakini petang yang tak akan ingkar
pada cahaya malam...

Aku pun percaya dengan lembaran
senyummu yang tak akan melebam oleh
pukulan kesepian...

Namun karena ku tahu cahaya malam
akan berakhir oleh sapuan jubah kegulitaan...

Aku pun
berharap senyummu tak ikut tenggelam di
dasar lantai palung kesunyian...

Dan untuk senyummu yang masih bertahan di alam penantian, kan kutiupkan sehembus doa kasih sayang
diantara juntai sinar rembulan....

Tetaplah dalam dekapan kesetiaan...

13 September 2011

Buruh harian...

Aku bergerak diantara kucuran bulir-bulir
keringat...

Bernafas diatas sesaknya debu-debu yang menguap...

Keping-keping rupiah seakan meremas semua reruas tulang yang ada...

Membanting sisa-sisa asa yang semakin melemah
karena di tunggangi pecutan lelah...

Sampai kapan ku harus bertahan...

Hingga semuanya berujung pada tumpukan
harta yang menggelimang.....

Ah....

Sepertinya cuma khayalan...

Karena ku hanya buruh harian...

9 September 2011 ·

Akulah sang waktu...

Akulah yang tergelincir dari ketinggian tebing kaca
nurani...

Menggelinding tak terarah diatas punggung
batu cadas bumi...

Dengan pijakan angkuh,akan ku gilas rata semua gundukan niat kerakusanmu yang busuk itu...

Lalu ku berdiri diatas tumpukan bangkai jazadmu, seraya berteriak dengan lengking cacian bangga...

Bahwa akulah sang waktu...

Penguasa dari laju nafasmu...
Tabir dari perandaian semumu...
Dan penggilas dari semua harapanmu...

Ingat itu...

13 Agustus 2011 ·

Kopi susu pagiku...

Sejenak, ku leburkan diriku bersama dengan genangan keruh dari
aroma kental hangat sebuah kopi susu penyapa pagiku...

Merenangi setiap lincapan kecap yang kan segera menggelencak
nikmat di arena kubangan lidah sang punggawa rasa...

Terawang mata fikir lalu melesat menembus kebuntuan syaraf,
meletuskan gelembung-gelembung suar ide, hingga menjadi
percikan binar yang siap meretas sandi-sandi dari misteri
rerambuan jalan...

Aha...

Akhirnya kebuntuan pontang-panting, tersuruk luruh, lalu membuyar
hancur di gilas inspirasi...

Terima kasih kawan...

Genangan keruhmu yang beraroma kental hangat di tabung kaca
beningku itu, telah melepas lilitan cekik dari tali kebuntuanku di otakku...

gresik,050412

Jahilliyah.....

Sudahlah.....

Bukankah itu cara jahiliyah, yang semakin membuatmu dekat dengann jilatan
api neraka...

Masih banyak cara indah untuk menikmati
kesucian cinta...

Tanpa harus pasrah pada kedurjanaan gelora nafsu jiwa...

Lihatlah tangisan bayi yang disana, yang disusui setelah penemuan tak disengaja...

Karena terlahir tanpa pengakuan dari ayah dan bundanya...

Tidakkah itu jahilliyah....?

2 Mei 2011

Segitiga...

Ada luka yg terjaga...

Terjungkal dari ruang tapa
para pecinta...

Dan sama halnya dengan cahaya gundah yang
mulai retak di alam perenungan kita, aku
pun terpental dari lelajur kenangan lama, yang
mengibaskan kisah diantara aku, kau dan dia...

Segitiga...

Itulah awal dari semua luka yang membawa kita
pada cerita cinta dengan tipu dayanya...

pontianak.281111

Pemulung tua...

Dan aku ada diantara keringatmu yang tercucur deras di bentangan
pagi yang masih rabun...

Tererosi bersama gumulan debu karat dunia yang tak pernah ingkar
menyumbati kulit pori-pori saat mengais sisa puing rejeki...

Tubuhku masih ada diantara getah keringat daki yang terus
melumuri celah kerut dari keriput usia usangmu, sembari terus
bertanya tanpa desis suara di gerbang cuping telingamu...

"Berapa kepingan rupiah yang akan engkau genggam dari perasan
keringatmu hari ini pak tua...?"

Dari degub jantung nadi kesyukuranmu ku dengar getaran jawab yang
hampir tak teraba oleh ibaku...

"Alhamdulillah, cukup untuk makan hari ini" gumammu....

Pemulung tua, Tg. Perak 140412

Rantai curiga...

Entah mengapa,  tiba-tiba suaramu laksana lolongan anjing yang terus menyalak dan mengepung saringan rongga dengarku.

Seribu alinea ceramah bernada curiga lalu menyerbu tanpa kendali jitu, menembus apa saja yang menjadi tirai dari niat penyangkalanku.

Mata hatimu begitu cepat terasah curiga, mengawasi tajam tanpa adanya satu kedipan.

Haruskah ku melangkah dengan menyeret rantai dari mata awasan curigamu ...

Surabaya,260612

Terbuang sia-sia...

Tak terasa sudah milyaran atau bahkan hampir trillyunan huruf yang kubiarkan tercecer dan tertumpuk di laci mejaku...

Ini mungkin karena ulah dari  rayuan bayang rejeki yang bagai gayung raksasa dan terus menguras semua isi bak air waktuku...

Namun, setelah kumenyadari tak ada lagi sisa waktu hingga tandas menyentuh dasar lantai sia-sia karena pengejaran yg tak menghasilkan apa-apa, aku pun mulai terjaga..

Dan kini, aku kembali memangku meja, membongkar paksa semua isi lacinya hanya sekedar ingin menghamburkan jutaan huruf agar menjadi teriakan kata yang menyumpahi dunia ..

Wahai engkau yg di luar sana, apakah engkau mendengarnya..?

Maka,terimalah aku walau suara serapah masih terus meledak dari tabung nalar logikaku...
...

Kamal_madura,010612.

Ingin kutampar engkau dengan tamparan katamu yang dulu...

Disaat seperti ini, sambaran suaramu seakan kembali terngiang,
mengingatkanku pada hardikanmu yang jitu tentang kesalahanku.

"Separuh dari usia manusia menua sia-sia hanya karena menunggu" begitu
katamu dulu yang seolah jadi tamparan kata buatku saat itu, ketika engkau telah lelah menunggu.

Dan kini..

Aku baru mnyadari, bahwa tamparan kata itu benar adanya, karena aku pun perlahan menua dengan ribuan keriput resah di wajah, saat aku
mulai lelah menunggumu...

Sekarang....

Siapkah engkau kutampar dengan katamu yang dulu... ?


12 Oktober 2011

Bangunan tua, gudang dosa....

Dari sebuah jaring laba-laba yang terentang di ketiak bangunan tua yang lapuk,
ku menerka akan kusamnya warna hidup yang kian tertelungkup.

Puluhan bangkai semangat telah terperangkap dan tak mampu menggeliat, seolah terikat kuat oleh getah-getah nafsu bejat yan berlipat-lipat.

Ia sudah tak berpenghuni, terabai dari jamahan jari-jari yang mungkin karena lemahnya
ekonomi.

Maka ia pun terbengkalai sia-sia, lalu menjadi kotak-kotak raksasa di atas tanah
sengketa warga.

Itulah nasibmu wahai villa, yang mungkin sebenarnya akan di jadikan gudang
dosa...


( Deretan bangunan tua yang kini menjadi gudang ranjang penuh dosa )_ Bengkulu, 15 Oktober 2011

Pencuci otak...

Mungkin kau tak menyadari, bahwa ocehan ceramah sucimu, tak lebih dari
deretan cibir yang merobek daun-daun telinga mangsamu.

Memang mungkin ada benarnya dengan semua ajaran akhlak yang kau punya
untuk kita cerna, tapi mengapa justru pengerdilan logika yang terjabar di atas
mimbar, saat engkau mengumbar dengan begitu lancar.

Aku pun menjadi sangsi, hingga membuatku bertarung dengan logika dan
perasaanku sndiri.

Siapa sebenarnya dirimu...?

Engkaukah si pencuci otak itu...?

13 Oktober 2011

Kepulan asap racun...

Sekarung racun telah ku tangkap dari kepulan cerobong asap
mulutmu, yang meliuk kemayu dari ayunan nafas ketagihanmu...

Terkadang ia bulat melingkar-lingkar, lalu acak semrawut, yang mnyebarkan
desau batuk ke tenggorokanku...

Tidakkah kau tahu bahwa aku hampir terbunuh karena ulahmu itu...?


Aku bukanlah pecandu rokok ataupun cerutu sepertimu, yang dengan
rakus menelan hingga tanpa pucuk puntung dan bubuk-bubuk abu....

Matikanlah api racunmu itu, dan akan ku tukar dengan uang seribu...

Mau kan sobatku...?


2 November 2011

Saat mendung melumuri langitku...

Yang kulihat hanyalah hamparan warna kelabu redup, yang terus
memudar dan kian luntur di dinding langitku.

Pulasan rona legam dari sapuan kuas mendung hitam semakin angkuh menghapus barisan atap biruku, menodainya dengan lumuran keruh, yang entah dengan maksud apa ia
memburu.

Yang aku tahu hanyalah pertanda akan adanya juraian benang bening di depanku, yang selain itu
aku memilih bisu...

Karena seribu kemungkinan masih akan terus berpacu mengalahkan misteri waktu...


4 November 2011 · ·

Ketika tiang-tiang asa mulai merapuh...

Usia hari kian renta, menua di langkahi ribuan cerita.

Segala arti dan makna telah terperas di keranjang loaknya, menjadi
hidangan mentah dengan ampas dimana-mana.

Raga pun kian melemah, semakin goyah dipijakan kaki yang tak
tertopang oleh tiang-tiang asa.

Semua seakan menguap begitu saja, lenyap tertelan oleh kunyahan
suara bising para manusia.

Wahai sang waktu...

Dengan apa rodamu harus ku kayuh..?

Agar dunia bisa ku rengkuh, ku remas dalam genggamanku

ampera, 091111

Aksara tanpa makna...

Seratus enam puluh aksara, coba ku pahat di atas lembaran kaca
maya.

Menjadi kata, menjadi prosa, menjadi cerita, menjadi apa saja hingga tak ada lagi angka yang
terlupa sebelum titik mengakhiri koma, dan sebelum tanya mengupas lembaran arti dan
makna.

Tapi, kemana semua akan bermuara, jika ternyata arak-arakan kata
hanyalah sebagai penghias dinding di beranda para pembaca, tanpa
ada petuah yang bisa di cerna....?????

2 November 2011

Gelombang - karang

Seakan tak pernah bosan..

Ujung lidah gelombang tak henti menjilati
bibir-bibir karang...

Melumatnya dengan gulungan hempas yg
menjulang-julang...

Dengan deburan lantang yang tanpa jeda dan jarak
hitungan....

Mereka saling bertaruh ingin mengalahkan...

Mencari pembuktian akan sebuah nilai
kemenangan...

Dan layaknya kehidupan sebagai
pemangku keseimbangan..

Tak akan ada yang
jadi pemenang...



13 September 2011

Dia : aku

Masihkah kau disana yang tetap mematungkan hati dan terdiam
tanpa geming untuk menghampiri...?

Sementara geliat bayangmu perlahan menjauh, melayangkan diri
dari tumpukan dendam yang selalu kau pupuk dari adonan benci.

Tidak cukupkah dengan gelaran penyesalan yang terburai di
depanmu dari dia yang inginkan uluran maafmu...?

Maafkanlah dia...



Dia=Aku -surabaya,270612

Sunday, July 8, 2012

Di saat lubang keriputku sedang bekerja extra...

Toilet, WC, jamban, kakus, kamar kecil, kamar sempit atau apalah
namanya, terserah engkau menyebutnya, yg jelas bagiku dialah
tempat terindah untuk menuang segala ide, cerita, puisi, khayalan,
lamunan, umpatan, cacimaki, erangan dan kadang penyesalan, juga
masih banyak lagi, tapi tunggu dulu sebab keran air belum aku
tutup dan masih mengalir, takut tumpah...

Lanjut....

Apalagi saat adukan rakus aneka makanan mulai mengeroyok dan
mencoba memperkosa paksa usus lambung di dalam perut, maka
pada saat itulah dengan ikhlasnya ia akan membuka mulut,
menganga lebar dan siap menampung apa saja dari semburan
dahsyat lubang keriput kita.

Dan...

Begitu pun denganku saat ini, yg beberapa menit yg lalu dengan
wajah pucat karena menahan nafas atas dan nafas bawah, aku lari
terbirit-birit seakan ada yang mau muncrat ...

Crat..cret...crot

Dan crit....

Aaaahh..lega....

akhirnya selesai juga...

Tapi, gayungnya mana...?
Terus ceboknya pake apa...?

Alahh...dasar WC umun seribuan...

Tapi ga apa-apalah, yg penting postinganku dah siap dibaca...

(asli, status ini di buat pada saat lubang keriputku sedang bekerja
ekstra...)

WC umum,290112

sholat jum'at...

Wahai engkau para pendamba surga, masihkah imanmu terjaga dari
rayuan bejat syaitan durjana...?

Alhamdulillah...

Maka segeralah membasuh hatimu dengan kesucian wudhu dan
doa, sebelum wajahmu menyentuh kiblat, di kedalaman sujud
sajadah malaikat.

Juga kalungkanlah lafadz-lafadz tasbihmu di ujung nafas rakaat,
setelah kekhusyukan sujud terbilang genap menyudahi salam
tahiyat.

Sobat....

Waktunya sholat jum'at..

Jum'at-270112

Terpedaya...

Dengan hasutan racun ejaan kata, ia membuaiku mesra, mengelus
halus dengan bumbu racikan janji surga.

Segala panorama ia tuangkan disana, di lukis dengan ukiran pahat
senyum menggoda, yang mempesona, menyilaukan mata jiwa.

Kelembutan aksara sutra pun terkibar tanpa cela, melambai indah
goyahkan tiang penalaran logika.

Aku terpedaya, terbius oleh rayuan manjanya...

Ah...wanita


Terpedaya,260112

Ambisi...

Dari rongga dengar, seucap cibiran sinis langsung mengaduk paksa
sisa retakan puing keyakinan yang telah runtuh kemarin.

Bayang jubah gelisah lalu menghampiri dengan lilitan terawang pahit,
hingga tunas asa tegak tak mampu bangkit menjangkiti akar
semangat yang terus merapuh tak berkutik.

Petuah suci sepertinya tak lagi ampuh memompa daya denyut
getaran nadi untuk berdiri acungkan bantahan pada caci maki.

Sementara dengung gema teriakan anti masih menggemaung,
mengacak-acak pola gerak intuisi diatas niat aksi yg telah tersaji rapi.

Lagi-lagi ambisi langkahku patah terhalangi....

Ambisi,Gilimanuk-Bali, 250112

Alas kaki...

Aku lelah seperti ini, yang terus menahan rintih oleh injakan tumit
kaum priyayi.

Pengorbanan jiwa ragaku tak pernah di hargai, dan mungkin hanya
dianggap sebagai bangkai yang justru mengotori kesucian kaki.

Telah berjuta kali atau bahkan lebih, nasibku di ludahi dengan
semburan dahak benci.

Bukankah karena jilatan lidahku, hingga gumpalan daki dan
kenajisan yg ada di kakimu tercuci bersih...?

Lalu mengapa aku terus di ludahi...?

Jujur, aku lelah menjadi alas kaki...

_alas kaki_150112

Nasi goreng, goreng sendiri..

Dentang aduan nyaring dari cumbuan dua benda keras, menguap di
atas kobaran tungku api panas.

Irisan pedas aneka warna dan rupa rempah pun telah mengintai
tajam di punggung talenan kayu cendana, yang siap merenangi
tadahan minyak yang telah menggenang pasrah di tadahan kuali tua.

Dan wangi aroma bumbu citarasa pun menyeruak diantara liukan
tongkat aluminium yang berujung pipih, lalu mengaduk lincah ribuan
bulir-bulir nasi putih dingin yang hampir basi di pangkuan wajan besi.

Kepulan asap selera kian merajalela, merambahi jalan nafas yang kini
tersedak oleh hirupan nafsu yang siap melahap.

Dan akhirnya keringatku menetas, menembus ruang lapar dari sajian
hangat sebuah gundukan nikmat berwarna coklat...

Hmm..enaknya nasi gorengku...

Nasi goreng, goreng sendiri-banyuwangi.150112

Serdaduku kalah perang...

Barisan serdadu berseragam putih telah siap menyerang
lawan, mencabik dengan taring, mengunyah dengan geraham.

Lalu dengan amunisi liur yg kental, ia melumeri koyakan daging
musuh hingga melebur dan siap tercerna olen nafsu telan.

Namun, karena tembakan meriam lidah yang terlanjur phobia pada
pedas panasnya rasa, hingga ia tak kunjung mengecap,
menggiringnya ke pintu kubur tenggorokan.

Ia tetap membiarkan tubuh sang musuh berguling-guling di sekitar
benteng gusi, menunggu sampai ia membangkai dingin, baru di
lempar ke lubang gelap, di lelorong kerongkongan.

Aowww...

Ternyata sang musuh masih kuat melawan,dan sebuah tombak tulang
tiba-tiba menembus pertahanan benteng gusi, lalu menghantam satu
serdadu geraham renta, yg dari dulu keropos compang-camping
karena usia.

Barisan serdaduku pun berhenti menyerang, tak mampu mencabik
dan mengunyah tubuh sang lawan.

Juga meriam lidah yg tiba-tiba terdiam tak mampu menelan, dan hanya
mengerang sakit oleh tombakan tulang musuh pada benteng
pertahanan.

Serdaduku kalah perang...

(Lagi makan ikan bandeng bakar, eehh.... ketulangan...)

Banyuwangi,250112

Masuk angin...

Masih jelas dalam ingatan, bahwa kemarin saat gelinding peluh begitu
deras membanjiri lelahnya otot-otot tubuh yang mengayuh rejeki dalam balutan sang
waktu.

Seketika linangan air mata langit mengguyur kepala tanpa nada
suara sengit, tanpa seruan rintik sbgai tanda akan adanya tumpahan
air yg tak sedikit.

Ya...

Kemarin aku kehujanan, dan juraian benang-benang bening yang begitu lancip
menukik di atas kulit, bahkan seolah menembus pori-pori hingga ke
batas gigilan yg paling inti.

Dan tadi, segala isi perut telah minggat tanpa pamit, mengungsi ke dalam
wadah-wadah plastik dan juga kadang langsung di atas keramik.

Kini, dalam kujuran kaku di rebahan tubuh yang lesu, puluhan rentang
garis merah, telah melintang lurus di lelajur punggungku yg pucat
layu.

Sepertinya aku akan sakit...

ketapang, banyuwangi.220112

Emosi...

Di ujung pecahan riak air yg tercipak oleh hempasan batu kerikil dari
lemparan tangan emosiku, tersisa segelembung buih yang sangat
tajam menatap gemeretak amarahku.

Matanya begitu runcing mengawasi, seolah menceramahi dengan
ribuan ocehan suci yang masih sulit untuk aku fahami.

Tubuhnya terus terayun-ayun, mengikuti lingkaran alur yang saling
mengejar dari poros lempar.

Dan tiba-tiba aku tersungkur, terjerembab menghantam kerasnya
batu kesadaran, saat lesatan busur ceramah seketika menembus,
meremukkan tulang nalarku.

"Haruskah kedamaian hatimu musnah hanya karena emosi sesaat
itu, sobat.." Petuahnya...

Astagfirullah....

_emosi_lampung.100112

Aku, kau dan dia...

Tiba2 ia datang dengan menggenggam butiran air mata, butiran luka yang entah terperas dari kelopak mana.

Rona merahnya membara oleh bakaran nyala amarah, hingga guliran mutiara beningnya mendidih uapkan cercaan sumpah.

Lalu, seribu tudingan seketika menebas tajam tanpa inginkan alasan, menyerbu segala bantahan dengan lesatan peluru duga prasangka kecurigaan.

Aku pun terdiam, membiarkan ia
menamparku dengan caci maki tuduhan.

Hingga uapan sumpah yg terjulang dari didihan amarahnya, kini perlahan melemah seraya bercerita dengan nada terbata-bata.

'' Butiran air mata ini adalah butiran luka dari seorang wanita yang
mencintaimu di sana ''

'' Apakah kau ingin aku memeras air mata untukmu sekarang juga, agar kau tahu bahwa aku pun terluka...? Katanya..

Aku kehilangan kata-kata...

banyuwangi, 210112

Melepuh di sandaran tunggu...

Di dinding, kulihat tubuh ramping sang jarum jam masih tampak
membungkuk mencium dahi angka sembilan.

Sementara kibasan tungkai panjangnya yg rapuh, begitu lunglai
mengitari barisan angka-angka yg terdiam kaku.

Detik seolah tak lagi lincah menggusur kediaman menit, yg sedari
tadi tertidur pulas menunggu untuk di lindas.

Aku pun terduduk lesu, lalu meremas gumpalan jenuh di sandaran
tunggu yg kini telah di guguri serbuk debu.

Puluhan sobekan kertas kebosanan telah bertebaran dimana2,
sbagai tanda kegusaran pada penantian yg tak kunjung berakhir
pada kepastian.

Arrrrrgggghhh.....

Tubuhku telah melepuh kawan....
Sampai kapan ku harus menunggumu....?

_melepuh di sandaran tunggu_ 090112

Engkau sang pembawa luka...

Seketika reranting ingatanku berderak, meretak pecah lalu patah menghantam belukar kenangan lama ..

Disana serasa ada sejuta lelancipan duri yang seolah kembali menegak, dan siap mengacungkan ancaman perih pada luka hati yang belum pulih terobati..

Namamu tiba-tiba hadir dalam jelmaan aksara, yang menyapa mesra dari seberang sana lewat dinding-dinding maya, yang bagiku justru mengotori kaca retina mata..

Wangi aroma tubuhmu telah lama ku bunuh dari liang indera pekaku...

Juga tarikan paksa senyum pura-puramu, telah lama ku timbun dalam gundukan dendam amarahku...

Enyahlah....

Sebelum sumpahku menamparmu dengan kata-kata...

Surabaya,050712

Liciknya kelicikan...

Semula yang terdengar hanya adu cengkerama, sebagai periuh canda tawa antara aku dan kau...

Lalu beringsut kepada pusaran tema tentang semua isi dunia dan segala yang sesuatu terpangku dalam tadahan rengkuhnya..

Rajutan mimpiku dan mimpimu pun saling teranyam fasih dalam pondasi rencana utuh yang menggiurkan...

Dan akhirnya, dengan niat pendakian pada undakan anak tangga menuju kesuksesan, maka jabatan tangan kesepakatan pun terikat kuat di atas tikar kepercayaan...

Namun entah bisikan syaitan dari arah perjuru mana, tiba2 runcingnya ujung mata tanduk di ubun2 kepalamu, menyala merah isyaratkan sebuah denyut niat kelicikan...

Hm...ternyata nyala tandukmu masih tak semerah dengan nyala tandukku...

Hahaha....


Liciknya kelicikan_surabaya,060712

Evolusi tusuk gigi dadakan