Barisan serdadu berseragam putih telah siap menyerang
lawan, mencabik dengan taring, mengunyah dengan geraham.
Lalu dengan amunisi liur yg kental, ia melumeri koyakan daging
musuh hingga melebur dan siap tercerna olen nafsu telan.
Namun, karena tembakan meriam lidah yang terlanjur phobia pada
pedas panasnya rasa, hingga ia tak kunjung mengecap,
menggiringnya ke pintu kubur tenggorokan.
Ia tetap membiarkan tubuh sang musuh berguling-guling di sekitar
benteng gusi, menunggu sampai ia membangkai dingin, baru di
lempar ke lubang gelap, di lelorong kerongkongan.
Aowww...
Ternyata sang musuh masih kuat melawan,dan sebuah tombak tulang
tiba-tiba menembus pertahanan benteng gusi, lalu menghantam satu
serdadu geraham renta, yg dari dulu keropos compang-camping
karena usia.
Barisan serdaduku pun berhenti menyerang, tak mampu mencabik
dan mengunyah tubuh sang lawan.
Juga meriam lidah yg tiba-tiba terdiam tak mampu menelan, dan hanya
mengerang sakit oleh tombakan tulang musuh pada benteng
pertahanan.
Serdaduku kalah perang...
(Lagi makan ikan bandeng bakar, eehh.... ketulangan...)
Banyuwangi,250112
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Kubayangkan tangan-tangan yang saling menjamah dalam kegelapan, meremas dosa diantara pagutan liar yang katanya karena pembuktian cinta... L...
-
Dan aku ada diantara keringatmu yang tercucur deras di bentangan pagi yang masih rabun... Tererosi bersama gumulan debu karat dunia yang tak...
-
Usia hari kian renta, menua di langkahi ribuan cerita. Segala arti dan makna telah terperas di keranjang loaknya, menjadi hidangan mentah de...
No comments:
Post a Comment