Tiba2 ia datang dengan menggenggam butiran air mata, butiran luka yang entah terperas dari kelopak mana.
Rona merahnya membara oleh bakaran nyala amarah, hingga guliran mutiara beningnya mendidih uapkan cercaan sumpah.
Lalu, seribu tudingan seketika menebas tajam tanpa inginkan alasan, menyerbu segala bantahan dengan lesatan peluru duga prasangka kecurigaan.
Aku pun terdiam, membiarkan ia
menamparku dengan caci maki tuduhan.
Hingga uapan sumpah yg terjulang dari didihan amarahnya, kini perlahan melemah seraya bercerita dengan nada terbata-bata.
'' Butiran air mata ini adalah butiran luka dari seorang wanita yang
mencintaimu di sana ''
'' Apakah kau ingin aku memeras air mata untukmu sekarang juga, agar kau tahu bahwa aku pun terluka...? Katanya..
Aku kehilangan kata-kata...
banyuwangi, 210112
No comments:
Post a Comment