Dengan sisa tenaga renta, ia mendayung lemah diatas sampan tuanya,
seraya mata terus bergerilya mencari tanda akan kecipak pundi-pundi harta…
Panas terik tak lagi jadi biang untuk di peras menjadi alasan,
sebagai penyurut niat dan akhirnya diam di bawah naungan atap kemalasan…
Ia tetap terus mendayung dengan sejuta keping harapan dikepala,
tak peduli akan urat tangan yang kian membengkak karena pecutan asa,
juga lapisan kulit yang semakin mengeriput dan melegam karena dibakar cuaca…
Baginya, kepulan asap dapur kehidupan harus tetap terjulang perkasa,
hingga menjelma menjadi sajian gizi yg siap cerna, untuk menyuapi mulut-mulut kelaparan yang menganga…
Dan ketika kecipak tanda mulai terbaca oleh awasan gerilya mata,
iringan semangat pun ikut terlempar bersama tebaran jala sebagai pengepung rejeki di hamparan samudera…
Hm….
Walau itu hanya geliat tanda yang belum menjadi rejeki di genggaman nyata,
namun bayangan istri dan anak yg siap menjemput dengan senyum indah di depan rumah,
telah menjejali semua isi tempurung
kepalanya…
Ah, si nelayan tua…
Kisah nelayan tua,230212
No comments:
Post a Comment