Di dinding, kulihat tubuh ramping sang jarum jam masih tampak
membungkuk mencium dahi angka sembilan.
Sementara kibasan tungkai panjangnya yg rapuh, begitu lunglai
mengitari barisan angka-angka yg terdiam kaku.
Detik seolah tak lagi lincah menggusur kediaman menit, yg sedari
tadi tertidur pulas menunggu untuk di lindas.
Aku pun terduduk lesu, lalu meremas gumpalan jenuh di sandaran
tunggu yg kini telah di guguri serbuk debu.
Puluhan sobekan kertas kebosanan telah bertebaran dimana2,
sbagai tanda kegusaran pada penantian yg tak kunjung berakhir
pada kepastian.
Arrrrrgggghhh.....
Tubuhku telah melepuh kawan....
Sampai kapan ku harus menunggumu....?
_melepuh di sandaran tunggu_ 090112
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
-
Bahwa keindahan cinta itu, lebih dari apa yang engkau tulis di dalam puisimu. Bahkan seribu syair pujangga yang kau satukan dalam bukumu it...
-
Aku bergerak diantara kucuran bulir-bulir keringat... Bernafas diatas sesaknya debu-debu yang menguap... Keping-keping rupiah seakan meremas...
-
Dgn satu alasan.. Ku akhiri rasaku.. Ku biarkan ia menjasad mati.. Dan terbungkus dalam bujuran kaku sang sepi.. Aku tak peduli lagi dengan ...
No comments:
Post a Comment