Di ujung pecahan riak air yg tercipak oleh hempasan batu kerikil dari
lemparan tangan emosiku, tersisa segelembung buih yang sangat
tajam menatap gemeretak amarahku.
Matanya begitu runcing mengawasi, seolah menceramahi dengan
ribuan ocehan suci yang masih sulit untuk aku fahami.
Tubuhnya terus terayun-ayun, mengikuti lingkaran alur yang saling
mengejar dari poros lempar.
Dan tiba-tiba aku tersungkur, terjerembab menghantam kerasnya
batu kesadaran, saat lesatan busur ceramah seketika menembus,
meremukkan tulang nalarku.
"Haruskah kedamaian hatimu musnah hanya karena emosi sesaat
itu, sobat.." Petuahnya...
Astagfirullah....
_emosi_lampung.100112
No comments:
Post a Comment